Surabaya,(DOC) – Geliat pasar properti di Jawa Timur mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah sempat tertekan cukup lama, terutama akibat pandemi Covid-19. Seiring membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat, sektor properti perlahan kembali bergerak ke arah yang lebih positif.
Salah satu agen properti di Jawa Timur, Toni, menyebut minat masyarakat terhadap pembelian properti mulai mengalami peningkatan. Menurutnya, fase pemulihan ini menjadi momentum penting setelah pasar sempat mengalami perlambatan cukup dalam.
“Saat ini kami masih dalam tahap recovery pasca-Covid. Seiring ekonomi yang mulai naik, permintaan properti juga ikut meningkat. Alhamdulillah, sudah mulai terasa pergerakannya,” ujar Toni, Selasa (16/12/2025).
Ia menjelaskan, pemulihan sektor properti di dorong oleh sejumlah faktor, salah satunya kebijakan pemerintah di sektor keuangan. Toni menilai kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi yang mendorong aliran dana ke perbankan nasional, khususnya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), turut memperkuat penyaluran kredit ke sektor riil.
“Kebijakan itu membuat perbankan lebih leluasa menyalurkan pembiayaan ke masyarakat. Salah satu sektor yang terdampak positif tentu properti,” katanya.
Dukungan pembiayaan perbankan juga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa sektor perbankan memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah, terutama melalui sektor properti.
“Contohnya di sektor properti. Bank memberikan pembiayaan, lalu di harapkan ada skema atau penawaran yang menarik sehingga konsumen terdorong untuk membeli,” ujar Emil.
Efek Berganda
Ia menambahkan, sektor properti memiliki efek berganda yang signifikan terhadap perekonomian. Ketika transaksi properti berjalan, berbagai sektor lain ikut terdorong, mulai dari industri material bangunan hingga penyerapan tenaga kerja.
“Dari properti, ada pembelian material, ada tenaga kerja yang di serap. Inilah perputaran ekonomi. Semakin banyak komponen lokal yang terlibat, dampaknya juga semakin besar,” jelasnya.
Sinyal pemulihan pasar properti juga tercermin dari data Bank Indonesia. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Triwulan III 2025, pasar properti nasional mulai menunjukkan stabilitas setelah melalui fase tekanan.
Dalam laporan tersebut, harga rumah di pasar primer tercatat meningkat sebesar 0,84 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski sedikit melambat di bandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,90 persen, tren ini di nilai sebagai indikasi positif bahwa sektor properti berada pada jalur pemulihan. (r6)





