
Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) mencatat bahwa aplikasi Link and Match ASSIK (Arek Suroboyo Siap Kerjo) telah di akses sekitar 38 ribu pengguna. Mayoritas pengguna terdiri dari pencari kerja usia produktif, yaitu 18 tahun ke atas, yang ingin mendapatkan posisi sesuai keahlian dan Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya.
Kepala Disperinaker, Agus Hebi Djuniantoro, menjelaskan bahwa pemanfaatan ASSIK tak hanya di peruntukkan bagi mereka yang benar-benar menganggur.
“Beberapa pengguna kami menemukan pekerjaan sambil menjalankan usaha atau ojek. Tetapi mereka ingin berstatus pekerja penerima upah untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” ujarnya pada Rabu (2/7/2025).
Melalui ASSIK, Hebi menuturkan, setiap lowongan kerja sudah terverifikasi sehingga meminimalisir risiko iklan palsu yang marak di media sosial. Dengan demikian, proses pencarian pekerjaan menjadi lebih andal dan efisien bagi pencari kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, angka pengangguran terbuka terus menurun sejak 2020. Dari 9,79 persen pada 2020, 9,68 persen (2021), 7,62 persen (2022), 6,76 persen (2023), hingga 4,91 persen (2024).
“Tahun ini kami targetkan penurunan tambahan 0,4 persen atau lebih,” tambah Hebi.
Untuk mencapai target tersebut, pihaknya melakukan pendataan pencari kerja usia produktif, menyelenggarakan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan, serta menjembatani calon tenaga kerja migran dengan agen penyalur resmi. Selain itu, job fair rutin di gelar hingga ke 500 kampung Pancasila. Sementara DPMPTSP mendorong perusahaan untuk mempekerjakan minimal 60% warga Surabaya ber-KTP lokal.
Hebi menegaskan bahwa seluruh program ini sejalan dengan fokus Wali Kota Eri Cahyadi dalam menekan angka pengangguran terbuka.
“Kami terus berkolaborasi dengan dunia usaha, industri, dan perangkat daerah terkait agar angka pengangguran terus menurun,” tutupnya. (r6)





