Pengurus PAN Surabaya Dan Jatim Kecolongan

Tidak ada komentar 332 views

Surabaya,(DOC) – DPD Partai Amanat Nasional(PAN) kota Surabaya mengaku kecolongan soal dokumen hasil scan dengan dokumen asli rekomendasi DPP PAN untuk pasangan Calon Walikota dan Wakilnya Rasiyo – Dhimam Abror, menyusul dicoretnya pasangan Cawali-Cawali tersebut dari bursa Pilkada KPU kota Surabaya.

Seperti diketahui, KPU mencoret pasangan tersebut, karena terdapat persyaratan administrasi yang dinyatakan tidak lengkap, Minggu(30/8/2015) hari ini, yaitu tunggakan pajak dan surat rekomendasi DPP PAN yang tidak identik antara hasil scan dan surat rekomendasi yang asli.

“Permasalahan ini memang pelik, karena soal rekomendasi ini adalah wewenang DPP PAN. Kita(DPD-DPW,red) para pengurus di Surabaya maupun di Jawa timur, tidak tahu menahu soal itu,” jelas Surat Ketua DPD PAN Kota Surabaya.

Menurut Surat, keluarnya surat rekomendasi dari DPP PAN untuk pasangan Rasiyo dan Abror, adalah upaya terbaik dari pengurus DPD PAN Kota Surabaya dan Jawa timur. Namun soal surat rekomendasi yang dianggap tidak identik itu, memang di luar perkiraan.

“Jelas ada masalah di tingkat DPP soal rekom itu. Tapi apa?, Saya belum dapat keterangan dari pusat terkait perbedaan dua dokumen yang diserahkan ke KPU,” katanya.

Sementara itu, Firda S Badri Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Dewan Perwakilan Wilayah PAN Jawa Timur,  justru mempertanyakan KPU yang mempersoalkan surat rekomendasi dari DPP PAN yang jelas menunjuk Pasangan Rasiyo – Dhimam Abror, maju dalam bursa Pilkada 2015.

“Mengapa dipersoalkan tidak identik. DPP PAN-kan sengaja membuatnya ganda, karena sebelumnya gagal. Seharusnya di check ke DPP langsung, bukan langsung menetapkan tidak sah,” jelasnya heran.

Sebagai kader yang ikut membesarkan Partai berlambang Matahari terbit ini, Ia sangat menyayangkan keputusan KPU kota Surabaya. Menurut Firda, perbedaan surat rekomendasi itu hanya sebatas fisik saja, namun essensinya tetap sama, yaitu menunjuk Rasiyo – Dhimam Abror sebagai Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Surabaya.

“Perbedaan itu hanya secara fisik, namun esensinya sama. Keputusan politik itu, tidak menggunakan kertas, tapi esensi,”cetusnya.(r7)