Jakarta,(DOC) – Perjalanan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 menyita perhatian dunia setelah tim tersebut memberikan perlawanan sengit kepada Argentina pada babak 32 besar.
Tanjung Verde yang menempati peringkat ke-67 FIFA mampu merepotkan Argentina yang berstatus sebagai tim peringkat pertama dunia. Tim asal Afrika itu bahkan nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah fase gugur Piala Dunia sebelum akhirnya mengakui keunggulan Argentina.
Di balik penampilan impresif tersebut, negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat itu menyimpan banyak fakta menarik.
Negara Kepulauan di Samudra Atlantik
Tanjung Verde merupakan negara kepulauan di Samudra Atlantik bagian tengah. Negara ini menjadi bagian dari ekoregion Macaronesia bersama Azores, Kepulauan Canary, Madeira, dan Kepulauan Savage.
Luas wilayah Tanjung Verde hanya sekitar 4.033 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 530 ribu jiwa. Sebagai perbandingan, wilayah negara ini lebih kecil daripada Provinsi Bali yang memiliki luas sekitar 5.780 kilometer persegi.
Menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Kepulauan Tanjung Verde berada sekitar 450 kilometer dari pantai barat Afrika. Wilayahnya mencakup 10 pulau utama dan 5 pulau kecil. Kepulauan tersebut terbagi ke dalam kelompok Barlavento dan Sotavento.
Kelompok Barlavento meliputi Santo Antão, São Vicente, Santa Luzia, São Nicolau, Sal, dan Boa Vista. Sementara itu, kelompok Sotavento terdiri atas Maio, Santiago, Fogo, dan Brava. Seluruh pulau besar dihuni penduduk, kecuali Santa Luzia.
Kondisi Alam Tanjung Verde
Pulau Sal, Boa Vista, dan Maio memiliki bentang alam yang relatif datar serta beriklim kering. Sebaliknya, Santiago, Fogo, Santo Antão, dan São Nicolau memiliki pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.280 meter.
Selain itu, curah hujan di Tanjung Verde tidak menentu sehingga negara ini kerap mengalami kekeringan. Kondisi tersebut juga memicu kekurangan pangan di beberapa wilayah.
Rata-rata curah hujan tahunan di ibu kota Praia hanya sekitar 24 sentimeter. Namun, selama musim dingin, angin dari Gurun Sahara sering membawa debu yang membuat langit tampak berawan.
Sejarah dan Penduduk
Bangsa Portugis menemukan Kepulauan Tanjung Verde pada 1456. Setelah itu, Portugis membawa banyak orang Afrika untuk bekerja di perkebunan sehingga masyarakat Tanjung Verde memiliki keturunan Afrika dan Eropa.
Pengaruh budaya Afrika paling kuat terlihat di Pulau Santiago yang menjadi tempat tinggal hampir separuh penduduk negara tersebut.
Selain itu, keterbatasan sumber daya alam dan curah hujan yang rendah mendorong banyak warga Tanjung Verde merantau ke luar negeri.
Saat ini, jumlah diaspora Tanjung Verde diperkirakan melebihi satu juta orang. Mereka tersebar di Amerika Serikat, Portugal, Belanda, Italia, Prancis, dan Senegal.
Bahasa dan Budaya
Bahasa resmi Tanjung Verde adalah Portugis. Meski begitu, sebagian besar masyarakat juga menggunakan bahasa Kreol atau Krioulo dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa tersebut berkembang dari bahasa Portugis kuno dan mendapat pengaruh dari berbagai bahasa Afrika serta Eropa. Karena itu, Tanjung Verde juga dikenal memiliki tradisi sastra dan musik Kreol yang kuat. (rd)





