
Bangka Belitung,(DOC) – Kebijakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang di luncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akhir tahun lalu mulai membuahkan hasil di sejumlah daerah. Salah satu contoh nyata datang dari SD Muhammadiyah 3 Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung.
Kepala sekolah, Satriadi, menyambut positif gerakan ini karena di nilai menyentuh langsung penguatan karakter siswa. Pihak sekolah bahkan menvisualisasikan tujuh kebiasaan itu melalui mural di pintu gerbang dan dinding kelas.
“Kami lukis langsung di tempat yang mudah di lihat anak-anak, agar mereka membaca, mengingat, dan terbiasa menjalankan,” jelas Satriadi.
Tujuh kebiasaan yang di maksud mencakup: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Gerakan ini di rancang sebagai langkah strategis mencetak generasi Indonesia yang berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan global.
Menurut Satriadi, kegiatan sekolah seperti doa bersama, upacara, hingga olahraga setiap Senin sudah sejalan dengan prinsip kebiasaan baik tersebut. Tak hanya di sekolah, pembiasaan juga di bawa ke rumah melalui koordinasi wali kelas dan orang tua. Anak di beri tugas rumah yang mengedepankan nilai-nilai keteladanan seperti religiusitas, kemandirian, dan tanggung jawab.
“Prinsip kami jelas: menjadi anak yang cerdas, taat, dan berkarakter baik berdasarkan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Pendidikan Karakter Lewat Makan Bergizi Gratis
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Hebat juga beririsan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang di gagas Badan Gizi Nasional dan di dukung penuh oleh Kemendikdasmen. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyebut bahwa MBG tidak hanya soal gizi, tapi juga bagian dari pendidikan karakter.
“Makan bisa menjadi media pendidikan: dari berdoa sebelum makan, disiplin waktu, tanggung jawab menghabiskan makanan, sampai menjaga kebersihan lingkungan makan,” ujar Mu’ti.
Ia menekankan pentingnya kesiapan teknis agar program berjalan lancar—mulai dari sanitasi dapur, drainase, hingga pelatihan relawan terkait penyajian makanan yang higienis. Menurutnya, MBG juga harus menjangkau para guru, bukan hanya siswa.
Bupati Bangka Belitung, Sukirman, turut mendukung program MBG dari sisi ekonomi lokal. Ia berharap pelaksanaan program ini juga memberi ruang bagi usaha katering masyarakat menjadi mitra penyuplai makanan bergizi di sekolah.
“Selain menyehatkan anak, MBG juga bisa membantu roda ekonomi warga sekitar. Harapannya, ini jadi program yang berkelanjutan,” ujarnya. (r6)





