Armuji Sidak Dugaan Pelecehan Ojol: Jukir Berdalih Candaan, Korban Mengaku Diteror Setahun

Armuji Sidak Dugaan Pelecehan Ojol: Jukir Berdalih Candaan, Korban Mengaku Diteror Setahun
Armuji saat melakukan mediasi antara ojol dengan jukir. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan Jalan Kaca Piring menyusul laporan dugaan pelecehan seksual verbal yang dialami seorang pengemudi ojek online (ojol).

Laporan tersebut menyeret sejumlah juru parkir (jukir) yang diduga kerap melayangkan ucapan tidak senonoh hingga tindakan rasis kepada korban saat mengambil pesanan makanan.

Bacaan Lainnya

Dalam sidak tersebut, Armuji memediasi korban berinisial YGL (30) dengan terduga pelaku, Doni, seorang jukir setempat. Doni membantah tuduhan pelecehan dan berdalih tindakannya hanya sebatas gurauan antar sesama pekerja di lapangan.

“Saya bilang saja ‘kamu wis sunat ta?’, ya cuma bercanda biasa, tidak ada maksud lain atau suruh buka celana,” klaim Doni saat dikonfrontasi, Rabu (19/8/2026).

Namun, pengakuan berbeda disampaikan YGL. Pengemudi ojol tersebut mengaku telah memendam tekanan psikologis selama lebih dari satu tahun akibat intimidasi verbal yang berulang dari kelompok jukir di lokasi itu.

“Setiap ambil orderan di sana selalu disoraki suruh lepas celana dan tunjukkan alat kelamin. Bahkan sampai pernah saya turunkan celana karena ditekan, tapi mereka tetap tidak berhenti,” ungkap YGL.

Ibu korban, Ong Sioe Djing, yang turut hadir mengaku geram atas dalih “candaan” pelaku dan mencemaskan keselamatan putranya saat kembali mencari nafkah di jalanan.

“Saya takut saja nanti kalau anak saya, kerja lagi apa aman ya? Saya sebagai orang tua, takut saja. Walaupun dari Pak Armuji bilangnya aman, tapi saya tidak yakin,” ujarnya.

Menanggapi situasi tersebut, Armuji menegaskan agar kelompok jukir tidak lagi mengganggu atau berkomunikasi dengan korban untuk mencegah intimidasi serupa berulang.

“Jangan sampai terulang lagi. Saya sudah bilang, tidak usah ajak bercanda yang aneh-aneh supaya tidak salah paham. Ini jadi pembelajaran agar jukir dan ojol saling menjaga sikap,” tegas Armuji.

Pos terkait