Surabaya,(DOC) – Pembangunan proyek trem dinilai bertele-tele dan sangat tidak memungkinkan untuk dibangun di Surabaya. Saat ini, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) selaku pemegang proyek, kembali mengadakan studi kelayakan atau fisibility study (FS). Padahal, Pemerintah Kota (Pemkot) sebelumnya sudah merampungkan FS. Bahkan, detail engineering design (DED)-nya juga sudah selesai.
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vinsensius mengatakan, Pemkot sudah bertahun-tahun merencakan proyek yang menelan anggaran Rp2,2 triliun itu. Pada 2015 ini, Pemkot juga berencana akan menggarap proyek tersebut. Tapi, setelah proyek itu diambil-alih Kemenhub, semua proses kembali ke awal lagi. “Membangun proyek trem itu tidak mudah. Dan untuk prosesnya sendiri, kok macem-macem. Bagian pemegang proyek itu Kemenhub. Kemudian operatornya, PT KAI (Kereta Api Indonesia). Lalu bagian perencanaannya Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional),” katanya, Senin(8/6/2015).
Selama ini, lanjut dia, tidak ada koordinasi antara Pemkot dengan Pemprov Jatim. Dia mengungkapkan, Gubernur Jatim, Soekarwo sebenarnya sepakat dengan proyek angkutan massal, tapi bukan dalam bentuk trem. Trem yang digagas Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini tidak memperhatikan koneksitas antar wilayah Surabaya dengan sekitarnya. Trem hanya untuk mobilitas didalam kota saja. “Angkutan massal itu kan harus memikirkan wilayah disekelilingnya. Misalnya dengan Sidoarjo. Kalau sudah antar wilayah seperti ini kan harus koordinasi dengan gubernur,” ujarnya.
Politikus dari Partai Nasdem ini menegaskan, pihaknya tidak sepakat dengan proyek trem. Di kota besar manapun, tidak ada yang membangun proyek trem untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Kalaupun ada trem, itu hanya untuk kereta wisata. Di Surabaya, tahun 1960-an ada trem dan itu sudah ditinggalkan karena tidak layak lagi. Wali kota seharusnya tidak ngotot untuk menggarap proyek trem. Justru jalur lingkar luar timur dan barat lebih penting untuk segera dituntaskan. “Saya kira proyek trem ini cenderung dipaksakan. Trem itu tidak cocok untuk kota besar. Yang cocok itu monorel,” urainya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Bappeko Surabaya AA Gede Dwija Wardhana menyatakan bahwa, semua kesiapan proyek trem sudah rampung. Sejak ada penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pada April lalu antara Pemkot Surabaya, PT KAI dan Kemenhub, sampai sekarang justru sudah memasuki proses untuk persiapan pelelangan. FS-nya juga sudah rampung. “Saat ini kami menyiapkan reference design yang digunakan untuk dokumen untuk proses building. Akhir tahun ini akan lelang dan awal 2016 sudah melaksanakan proses pembangunan konstruksi,” katanya.
Pernyataan Dwija ini tentu bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Perhubunga (Menhub) Ignasius Jonan. Seusai mengisi acara Airlangga Accounting International Conference (AAIC) Rabu (3/6) lalu di salah satu hotel di Surabaya Jonan dengan tegas mengatakan, saat ini pihaknya masih menuntaskan studi kelayakan. Baru kemudian agar menggelar lelang proyek yang rencananya akan dibiayai APBN itu. “ Saya kira untuk pekerjaan lelang, sangat kecil untuk dilakukan tahun ini, mungkin tahun depan. Saat ini kami tuntaskan FS dulu,” ujarnya. (lh/r7)