
Surabaya, (DOC) – Ribuan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mengepung Mapolrestabes Surabaya pada Jumat (31/7/2026). Massa melayangkan ultimatum keras kepada aparat kepolisian agar segera menangkap pelaku penganiayaan dan pembacokan yang menimpa dua anggota mereka di kawasan hiburan malam Tegalsari.
Koordinator aksi menegaskan, kedatangan massa dari berbagai daerah seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Bojonegoro, hingga Probolinggo ini merupakan bentuk peringatan awal.
Apabila penanganan kasus berlarut-larut, gelombang massa yang jauh lebih besar dipastikan bakal kembali memadati Kota Pahlawan.
“Bilamana ini nanti berlarut-larut dan para pelaku tidak tertangkap, saya pastikan seluruh Jawa Timur akan bergerak lagi,” tegas koordinator aksi di atas mobil komando yang disambut gemuruh dukungan ribuan massa.
Massa yang memadati kawasan Mapolrestabes sejak pukul 14.16 WIB tersebut menuntut polisi menindak tegas segala bentuk premanisme dan mengusut tuntas kasus pembacokan terhadap korban yang sehari-hari bekerja sebagai petugas valet tersebut.
Menanggapi ultimatum itu, pihak kepolisian memastikan telah mengerahkan seluruh personel dan sumber daya teknis guna memburu para pelaku secepatnya.
“Termasuk semua peralatan yang kita miliki sekarang kita gerakkan untuk mencari pelaku. Kami komitmen, kalau misalkan secepatnya hari ini bisa tertangkap, kenapa tidak,” ujar perwakilan Polrestabes Surabaya di hadapan massa.
Aksi yang mendapat pengawalan ketat dari personel gabungan TNI-Polri ini sempat membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi padat dan mengalami pengalihan jalur. Usai menyampaikan tuntutan dan menyanyikan Hymne SH Terate, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib tanpa melanjutkan aksi ke titik lainnya.





