Lumajang,(DOC) – Ribuan umat Hindu dari Bali dan berbagai daerah di Jawa Timur memadati Pura Mandara Giri Semeru Agung (MGSA), Lumajang, untuk mengikuti upacara Piodalan (Pujawali), yang rutin di gelar saat bulan Purnama.
Acara ini merupakan perayaan sakral yang menandai hari pertama di gunakannya pura tersebut pada 1992. Piodalan menjadi wujud syukur sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
Ketua Kwarda Bali sekaligus mantan Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace), menjelaskan bahwa Piodalan sudah menjadi bagian penting dari siklus spiritual umat Hindu.
“Piodalan ini kami adakan tiap tahun, selalu saat bulan Purnama. Upacara ini kami hitung berdasarkan kalender Isyaka dan melibatkan satu kerbau sebagai simbol persembahan,” ujarnya, Kamis(10/7/2025).
Ia juga menjelaskan bahwa Pura MGSA memiliki upacara besar lain yang di gelar setiap 5 dan 10 tahun.
“Kalau yang lima tahunan memakai tiga kerbau, sedangkan yang sepuluh tahunan menggunakan tiga belas kerbau. Semua itu kami sesuaikan dengan tingkat kesakralan dan maknanya,” tambahnya.
Cok Ace juga menekankan pentingnya kolaborasi budaya.
“Budaya itu milik bersama. Kami terbuka bekerja sama dengan Lumajang untuk kegiatan seni, tari, musik, dan lainnya,” katanya.
Pura MGSA, Titik Spiritualitas di Kaki Semeru
Pengurus Pura MGSA, Wira Dharma, menyebut bahwa upacara ini akan berlangsung hingga 21 Juli 2025. Umat dari berbagai daerah hadir secara bergiliran, sesuai pembagian wilayah masing-masing.
“Pura ini termasuk yang dituakan di Bali dan Jawa Timur. Karenanya, umat wajib hadir saat Pujawali, terutama mereka yang sudah mendapat giliran,” jelas Wira.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati Masdar, yang akrab disapa Bunda Indah, turut menghadiri perayaan tersebut. Ia menilai keberadaan Pura MGSA memperkuat identitas Lumajang sebagai daerah yang menjunjung tinggi harmoni antarumat beragama.
“Pura ini bukan hanya milik umat Hindu, tapi milik kita semua. Tempat ini mengajarkan nilai damai dan ketulusan,” ujar Bunda Indah.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjaga keberagaman.
“Kami ingin agar Lumajang terus dikenal sebagai rumah yang ramah bagi semua agama dan keyakinan. Keberagaman harus menjadi kekuatan, bukan perpecahan,” tegasnya.(imam)





