
Surabaya, (DOC) – Program pelatihan militer untuk anak-anak nakal seperti yang di jalankan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuai pro dan kontra. Namun, Pemerintah Kota Surabaya punya pendekatan berbeda. Alih-alih mengirim anak ke barak militer, Surabaya memilih membina mereka lewat pendidikan berbasis asrama.
Program ini di kenal dengan nama Rumah Ilmu Arek Suroboyo (RIAS) dan telah berjalan beberapa tahun. Lokasinya tersebar di Kecamatan Mulyorejo dan Rungkut. Anak-anak yang masuk dalam program ini di sekolahkan secara formal dengan biaya sepenuhnya di tanggung oleh pemerintah kota.
Namun pembinaan mereka tidak berhenti di ruang kelas. Para peserta juga di bekali keterampilan praktis, seperti kewirausahaan (misalnya produksi makanan dan minuman), olahraga (tinju, bersepeda), hingga wawasan kebangsaan.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa sebelum RIAS di jalankan secara penuh, Pemkot sempat mencoba pendekatan militer. Pada 2022 dan 2023, puluhan remaja yang terlibat tawuran, balap liar, hingga menghisap lem di kirim mengikuti pelatihan di Pangkalan Udara TNI AL Juanda selama 10 hari. Program itu di namakan Sekolah Kebangsaan.
Hasil awalnya menjanjikan. Banyak anak yang berubah sikap dan menjadi lebih patuh terhadap orang tua. Namun, perubahan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu tiga bulan, sebagian dari mereka kembali terlibat tawuran.
“Setelah kami telusuri, ternyata akar masalahnya lebih dalam. Banyak dari mereka kurang mendapat perhatian karena orang tuanya harus bekerja sampai malam. Jadi masalahnya bukan hanya kedisiplinan, tapi juga ekosistem sosialnya,” ujar Eri.
Pendekatan Asrama
Melihat hal itu, Pemkot memutuskan membangun sistem pembinaan yang lebih menyeluruh melalui pendekatan asrama. Di sini, anak-anak tinggal dan di bina setiap hari. Mereka sekolah di pagi hari, dan kembali ke asrama untuk mengikuti kegiatan positif seperti pelatihan usaha, olahraga, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan serta religius sesuai agama masing-masing.
Selain pengajar dari sekolah formal, RIAS juga menghadirkan anggota TNI dan Polri untuk mengajarkan kedisiplinan dan wawasan kebangsaan. Menurut Eri, kombinasi antara pendidikan akademik, pembinaan karakter, dan keterampilan hidup inilah yang membuat pendekatan RIAS lebih efektif.
“Kami tidak ingin setengah-setengah. Anak-anak ini kami jamin masa depannya. Lulus SMA tidak bingung mau kuliah di mana. Setelah lulus kuliah, sudah ada perusahaan yang siap merekrut,” tegasnya.
Program RIAS juga melibatkan kolaborasi dengan pihak swasta. Mereka banyak memberikan dukungan, baik dari sisi sarana maupun pembinaan. Anak-anak yang masuk ke program ini di pilih berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan. Camat dan lurah setempat ikut berperan aktif dalam menjaring peserta.
Bagi orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya ke RIAS, cukup datang ke kantor kelurahan. Data mereka akan di cocokkan dan di proses oleh Pemkot untuk memastikan anak-anak yang benar-benar membutuhkan bisa masuk program. (r6)





