“Suroboyo Resik Narkoba” Jangan Hanya Ceremonial

Surabaya,(DOC) – Ikrar Pemerintah kota(Pemkot) menjadikan “Surabaya Kota Resik Narkoba”, mendapat kritikan dari anggota DPRD kota Surabaya. Ikrar yang rencananya akan diikuti dengan program penyuluhan di tingkat kecamatan, kerjasama   Pemkot dengan Badan Nasional Narkotika(BNN)-RI, dikuatirkan hanya sebatas ceremonial di awal kesepakatan.

Modul Kurikulum Anti Narkoba 2015 (Surabaya Resik Narkoba 2015) yang diresmikan di Jatim Expo, Surabaya, Selasa (9/6/2015) kemarin, hanya sebatas aplikasi momentum tanpa realisasi jelas. “Saya sepakat dan akan mendukung sekaligus mendorong karena bakal membawa manfaat yang baik bagi masa depan pemuda dan pemudi di Surabaya, asal impelemntasinya dengan niat yang serius, bukan hanya sekedar ceremonial belaka, lantas menguap,” ucap H Juanedi Ketua Fraksi Demokrat DPRD kota Surabaya, Rabu(10/6/2015).

Bacaan Lainnya

Ia juga meminta kepada aparat yang berwenang termasuk BNN untuk benar-benar memegang komitmen secara serius dengan menghilang sejumlah tempat hiburan di seluruh Kota Surabaya yang ditengarai berpotensi sebagai tempat peredaran narkoba. “Agar tidak dianggap sekedar berwacana atau tebang pilih, harusnya aparat terkait termasuk BNN bisa membantu untuk menutup sejumlah tempat hiburan di Surabaya yang diduga kuat sebagai tempat peredaran narkoba, tanpa pandang bulu,” tegasnya.

Wakil ketua Komisi D DPRD kota Surabaya ini, juga mengkritisi penyuluhan tentang bahaya narkoba seharusnya tidak hanya ditujukan ke para pemuda dan siswa di sekolah saja, tetapi juga melibatkan orang tua agar bisa mengawasi di rumah. “Jangan hanya masuk di kurikulum saja, tetapi berikan slide video tentang bahayanya narkoba secara periodic terhadap siswa dan orang tua sebagai wali murid, karena tanggung jawab seorang anak tidak lepas dari peran orang tuanya saat dirumah,” terang Sekretaris Partai Demokrat Surabaya ini.

Bukan hanya Narkoba, kedepan Junaedi menyarankan, Pemkot bersama instansi lainnya bisa menambahkan materi kurikulum bahaya HIV/AIDS. “Jangan hanya soal narkoba, siswa, pemuda dan pemudi di Surabaya juga harus diperkenalkan soal bahayanya HIV/AIDS akibat seks bebas, yang biasanya berawal dari pesta narkoba dan minuman keras,” pungkasnya.(r7)