Bekasi (DOC) – Kereta jarak jauh (KAJJ) dan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4/2026) malam. Kecelakaan dilaporkan terjadi sekitar pukul 20.57 WIB.
Perkembangan terbaru terkait insiden tabrakan kereta api di kawasan Stasiun Bekasi Timur kembali disampaikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Data mutakhir menunjukkan adanya korban jiwa serta penanganan intensif yang masih terus berjalan di lokasi kejadian.
Hingga laporan terakhir dihimpun, jumlah korban meninggal dunia mencapai lima orang. Di saat yang sama, tiga korban lainnya dilaporkan masih terjebak dan sedang dalam upaya evakuasi oleh tim petugas di lapangan.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa korban yang telah mendapatkan penanganan medis jumlahnya mencapai puluhan orang.
“Perlu kami sampaikan update dari korban, pada saat ini meninggal dunia ada 5. Kemudian yang masih terperangkap itu ada sekitar 3. Dan yang sudah observasi ke rumah sakit itu berjumlah 79,” ujar Bobby, Selasa (28/4/2026).
Ia menerangkan bahwa para korban telah dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Tercatat ada sembilan rumah sakit yang menjadi rujukan, termasuk RS Primaya, RSUD Bekasi, RS Viola Bekasi, serta Mitra Keluarga.
Selain fokus pada penanganan korban, pihak KAI juga langsung membangun posko tanggap darurat di area Stasiun Bekasi. Keberadaan posko ini dimaksudkan untuk mempercepat koordinasi dan mempermudah proses penanganan di lapangan.
“Kemudian kita juga mengadakan posko tanggap darurat itu di Stasiun Bekasi ini,” lanjutnya.
Dari sisi operasional perjalanan kereta, sebagian jalur sudah mulai difungsikan kembali setelah proses evakuasi selesai dilakukan. Aktivitas perjalanan secara bertahap mulai dipulihkan.
“Per jam 1.24 WIB, track kita yang di jalur hilir itu sudah beroperasi, setelah kita tadi mengevakuasi mobil taksi bersama dengan KRL-nya yang tertemper oleh mobil taksi itu,” jelas Bobby.
Meski demikian, operasional di Stasiun Bekasi Timur untuk sementara dihentikan. Kebijakan ini diambil untuk mendukung kelancaran proses penanganan lanjutan di lokasi insiden.
“Sampai waktu nanti kita tentukan, Stasiun Bekasi Timur ini akan kita tutup sementara untuk commuter line, sehingga nanti layanan itu hanya sampai di Bekasi saja,” tutupnya.
Sebagai catatan, insiden ini terjadi pada Senin malam (27/4/2026), ketika Kereta Api Argo Bromo Anggrek bertabrakan dengan kereta rel listrik yang tengah berhenti. Peristiwa tersebut langsung memicu kepanikan di antara penumpang, baik yang berada di dalam rangkaian kereta maupun di area peron stasiun.
Benturan keras menyebabkan bagian lokomotif KA Argo Bromo masuk ke dalam gerbong belakang KRL. Kondisi ini mengakibatkan kerusakan yang cukup serius pada rangkaian kereta.
Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi pada gerbong khusus perempuan. Sejumlah penumpang yang berada di dalamnya mengalami kesulitan untuk keluar karena akses terhalang oleh bangku serta bagian gerbong yang mengalami deformasi akibat benturan. (rd)