Tak Cuma Murah, Jaringan Gas Menghemat Devisa Negara

 

Surabaya, (DOC) – Perusahaan Gas Negara telah merampungkan proyek sambungan jaringan gas rumah tangga di kawasan Probolinggo dan Pasuruan, Jawa Timur. Proyek jargas ini ternyata tidak hanya menghemat kebutuhan rumah tangga masyarakat, tapi sekaligus menghemat devisa negara.

Proyek dengan anggaran APBN 2018 tersebut berhasil diselesaikan dalam 240 hari. Adapun sambungan jargas rumah tangga di Probolinggo terpasang di 5.025 rumah serta, sedangkan Pasuruan di 6.314 rumah.

“Sesuai arahan presiden, pembangunan jaringan gas rumah tangga ini dibiayai APBN, maka uang berasal dari rakyat harus dikembalikan kepada masyarakat luas,” urai Menteri ESDM Ignasius Jonan pada kesempatan peresmian jargas Pasuruan, Rabu (9/1).

Jonan menjelaskan, pemerintah membangun pemerintah 89.727 sambungan jargas rumah tangga pada 2018. Jonan berharap optimis jumlah tersebut akan jauh lebih bertambah pada tahun 2019. “Tahun depan kita ingin tingkatkan bila anggaran memenuhi. Kalau bisa 1 juta sambungan rumah untuk setahun,” ujar mantan Menteri Perhubungan ini optimis.

Negara Hemat Hingga Rp 40 Trilyun

Menurut Jonan, bila dihitung dengan matang dan rinci banyak penghematan yang bisa diperoleh bagi masyarakat maupun keuangan negara. Dari sisi masyarakat sudah dijelaskan, rata-rata ibu rumah tangga bila dibandingkan tabung gas 3 kg, hematnya mencapai Rp 20 ribu per bulan atau 1 tahun hemat Rp 240 ribu.

Tapi secara nasional, elpiji 3 kilo maupun 12 kilo itu membutuhkan 6,5 juta ton gas.
Namun dari jumlah tersebut yang diproduksi nasional atau dalam negeri hanya 2 – 2,5 juta ton saja. Sisanya 4-4,5 juta ton diperoleh lewat impor. “Bila ditotal, nilainya sekitar 2,5 miliar dollar atau Sekitar 35 sampai 40 triliun rupiah,” urainya.

“Dengan adanya sambungan jargas ini negara secara keseluruhan bisa mengurangi impor dan menghemat devisa,” tegas Jonan.

Selain itu, tabung gas melon masih menggunakan subsidi pemerintah. Tabung gas 3 kilo itu disubsidi pemerintah senilai Rp 5000 rupiah per satu kilonya. “Jadi satu tabung itu disubsidi sekitar Rp 15-20 ribu tergantung kurs mata uang. Sehingga kalau sebulan 4 tabung, berarti kita subsidinya hemat 60 ribu,” tambah Jonan.

“Tujuannya bagaimana meningkatkan penggunaan gas dan mengurangi impor gas setiap tahunnya,” pungkas Dia. (Pbr)