Tangerang,(DOC) – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, terjadi sejak Selasa (30/6/2026). Hingga kini, petugas gabungan masih berupaya memadamkan api yang belum sepenuhnya padam.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan proses pemadaman telah mencapai 50 persen dari total lahan terdampak seluas 18 hektare.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, mengatakan tim gabungan terus memperluas area pemadaman ke sektor barat TPA Jatiwaringin.
“Kemarin saya laporkan 45 persen. Saat ini kami sudah mengendalikan hampir 50 persen area yang terbakar karena tim sudah menyasar sektor barat TPA Jatiwaringin,” kata Djohan, Selasa (7/7/2026).
Djohan menambahkan, selain mengendalikan titik api, petugas juga berhasil meningkatkan tingkat kebersihan area terdampak hingga mencapai 70 persen.
Operasi Gabungan Terus Berjalan
Menurut Djohan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementerian Kehutanan (Kemenhut), TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan sektor swasta selama delapan hari operasi.
Ia menilai perkembangan pemadaman menunjukkan hasil yang signifikan. Meski begitu, asap masih muncul ketika angin bertiup kencang.
“Perkembangannya sudah sangat signifikan. Titik api hampir tidak ada, tetapi asap masih muncul saat angin bertiup. Alhamdulillah, pergerakan kami cukup pesat,” ujarnya.
Medan Sulit Hambat Pemadaman
Djohan menjelaskan tumpukan sampah di TPA Jatiwaringin memiliki karakteristik yang menyerupai lahan gambut. Kondisi tersebut menyulitkan petugas menjangkau sumber api.
Material seperti plastik dan pecahan kaca juga memperlambat proses pemadaman. Karena itu, petugas mengombinasikan penyemprotan air dengan penggunaan alat berat.
Buldozer dan ekskavator membongkar tumpukan sampah yang masih mengeluarkan asap. Setelah material panas terangkat ke permukaan, petugas langsung melakukan penyiraman untuk menurunkan suhu.
Selain itu, petugas mengerahkan puluhan mobil tangki berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter. Armada tersebut menyuplai air ke sektor utara, selatan, dan tengah sehingga mobil pemadam utama tetap berada di lokasi.
Empat Helikopter Water Bombing Disiagakan
Sebanyak 500 personel gabungan kini memfokuskan operasi di sektor barat mengikuti arah embusan angin.
BNPB juga mengoperasikan empat helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses dari darat. Beberapa helikopter bergantian menjalani perawatan, namun operasi pengeboman air tetap berlangsung.
“Perintahnya jelas, pemadaman harus sampai tuntas. Jika masa status darurat dua minggu berakhir dan api belum padam, pemerintah daerah akan memperpanjang status darurat,” kata Djohan.(rd)





