Solusi Pengentasan Kemiskinan Surabaya Jadi Sorotan dalam Forum Strategis UI

Surabaya, (DOC) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, di undang untuk berbicara dalam forum strategis di Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Eri Cahyadi memaparkan berbagai strategi yang di terapkan di Surabaya untuk solusi pengentasan kemiskinan. Forum tersebut bertajuk “Membedah Program Strategis Pemerintahan Baru dan Solusi Mengatasi Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045” yang di gelar oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI.

Bacaan Lainnya

Acara yang berlangsung pada Rabu (18/9/2024) ini di hadiri oleh sejumlah akademisi terkemuka. Selain itu, pemangku kepentingan dari berbagai kementerian dan lembaga juga ikut hadir. Di antara pembicara lain adalah Guru Besar UGM Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat, M.Ec, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Amany Lubis, dan Prof. Agus Pakpahan. Forum ini bertujuan memberikan masukan strategis kepada pemerintahan baru dari berbagai perspektif.

Wali Kota Eri menjelaskan bahwa kebijakan solusi pengentasan kemiskinan harus fokus pada tiga hal penting. Ketiganya adalah keterpaduan data, sinergi kebijakan, dan kolaborasi lintas sektor.

“Data yang akurat dan terpadu sangat penting. Dengan interoperabilitas data yang baik, kita bisa bergerak cepat dan tepat dalam menyalurkan program kepada warga yang membutuhkan,” katanya.

Surabaya, menurut Eri, telah melakukan pendataan menyeluruh pada seluruh penduduk. Dari hasil ini, tercatat angka kemiskinan sebesar 219.427 jiwa, lebih tinggi dari sumber data lain seperti BPS dan P3KE. Data ini di jadikan dasar untuk intervensi program pengentasan kemiskinan.

“Kami melakukan pendataan by name by address, melibatkan ASN serta RT/RW untuk mendata langsung semua warga Surabaya. Ini bukan hasil sampling. Jadi meskipun hasilnya lebih besar, kita tahu siapa yang tepat di bantu,” jelasnya.

Data ini bisa di akses tanpa birokrasi rumit, sehingga intervensi lebih cepat dan tepat. Pembaruan data juga di lakukan secara real-time, tidak memerlukan waktu berbulan-bulan. Berdasarkan data tersebut, Wali Kota Eri menyusun tiga strategi utama. Strategi pertama adalah meningkatkan pendapatan warga miskin. Strategi kedua adalah mengurangi beban pengeluaran, dan ketiga adalah mengatasi kantong-kantong kemiskinan terkait aspek spasial.

Baca Juga:  PD Pasar Surya Gelar HUT ke-151, Senja Surya 2.0 di Wonokromo Jadi Momen Spesial
Pemanfaaatan Aset Idle Pemkot

Eri juga memaparkan program konkret, seperti Rumah Padat Karya yang memanfaatkan aset idle Pemkot untuk usaha warga miskin. Program ini meliputi usaha kafe, laundry, dan produksi paving.

Produk dari usaha warga miskin ini di beli oleh ASN dan perangkat daerah melalui platform digital e-Peken. Hal ini di lakukan sambil memberdayakan mereka untuk bersaing di pasar umum. Program ini telah memberdayakan 35.638 KK miskin dan memanfaatkan 133 aset Pemkot Surabaya.

Selain itu, Wali Kota Eri juga meluncurkan program untuk meringankan beban pengeluaran warga. Misalnya, dengan memberikan perlengkapan sekolah gratis dan beasiswa untuk ribuan pelajar serta mahasiswa. Ada juga program berobat gratis menggunakan KTP dan pendidikan gratis di SD-SMP.

Dengan program-program strategis tersebut, angka kemiskinan di Surabaya terus di tekan. Kemiskinan ekstrem yang semula 1,2 persen atau 35.020 jiwa pada tahun 2024, turun drastis menjadi 7.572 jiwa pada 2023. Tahun ini, targetnya adalah angka kemiskinan ekstrem bisa mencapai nol.

Data BPS juga menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Surabaya berhasil turun dari 5,23 persen pada 2021 menjadi 3,96 persen pada 2024. Jumlah rumah tangga miskin di Surabaya berkurang dari 75.069 KK pada 2022 menjadi 28.429 KK pada Agustus 2024, dengan target menurun hingga 15.000 KK pada akhir tahun 2024. (r6)

Pos terkait