Lumajang,(DOC) – Hama tikus serang lebih dari 14 ribu hektare lahan sawah padi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Angka ini setara dengan sekitar 20 persen dari total lahan yang di tanami padi di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang, Retno Wulan Andari, mengungkapkan bahwa total lahan persawahan padi di kabupaten ini mencapai antara 71 hingga 72 ribu hektare.
“Sekitar 20 persen dari lahan sawah itu sudah di serang oleh tikus,” ujarnya saat di temui di Lumajang, Selasa (6/5/2025).
Retno menambahkan, serangan tersebut tidak hanya terjadi secara sporadis, melainkan merata di seluruh 21 kecamatan di Lumajang. Bahkan, tikus kini mulai merusak tanaman lain di luar padi.
“Bukan hanya padi, tapi juga jagung dan tembakau sudah mulai ikut terserang. Ini terjadi hampir di semua wilayah kecamatan,” tambahnya.
Serangan yang masif ini membuat petani kewalahan. Beberapa di antaranya mengaku gagal panen dalam dua musim terakhir. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian pun mulai turun tangan.
Direktur Perlindungan Tanaman, Rachmat, menjelaskan dua metode penanganan: Gerakan Pengendalian (Gerdal) menggunakan belerang dan pemasangan rumah burung hantu sebagai solusi alami yang terbukti efektif mengendalikan populasi tikus.
Upaya pengendalian hama ini juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Di beberapa desa, kelompok tani mulai mengorganisasi jadwal Gerdal secara berkala. Mereka berharap intervensi cepat bisa meminimalkan risiko gagal panen lanjutan, terutama menjelang musim tanam berikutnya.
Pemerintah juga di harapkan memberikan bantuan benih dan pupuk bagi petani yang lahannya terdampak parah. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan pangan daerah serta mencegah kerugian lebih lanjut di sektor pertanian.
Jika tidak segera di tangani secara masif dan terkoordinasi, serangan hama tikus berpotensi memperparah kerusakan lahan pertanian dan menurunkan produksi pangan lokal secara signifikan.(imam)





