Era Prabowo, Koperasi Desa Didorong Jadi Pilar Utama Ekonomi Nasional

Era Prabowo, Koperasi Desa Didorong Jadi Pilar Utama Ekonomi Nasional
Era Prabowo, Koperasi Desa Didorong Jadi Pilar Utama Ekonomi Nasional

Jakarta,(DOC) – Program Koperasi Desa Merah Putih yang di gagas Presiden Prabowo Subianto mendapat sorotan positif dari Kementerian Koperasi dan UKM. Deputi Bidang Kelembagaan dan Digitalisasi Kemenkop, Hendra Saragih, menyebut inisiatif ini sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat kelas tinggi, karena menyentuh langsung akar ekonomi nasional.

Dalam pertemuan dengan Koperasi Jasa Barisan Alumni Tamansiswa Nusantara di Jakarta, Kamis (11/7/2025), Hendra menegaskan pentingnya mengembalikan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional.

Bacaan Lainnya

“Kita punya presiden yang benar-benar serius menjalankan amanah konstitusi melalui ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Namun, menurut Hendra, masih banyak tantangan yang harus di hadapi. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian per Juli 2023 menunjukkan bahwa hanya 10 persen warga Indonesia pernah menjadi anggota koperasi. Di kalangan milenial, angka partisipasinya lebih rendah lagi, 73 persen belum pernah bergabung, dan hanya 6 persen yang benar-benar aktif.

Ia menjelaskan, rendahnya partisipasi ini di sebabkan oleh berbagai kendala. Mulai dari minimnya literasi koperasi, keterbatasan akses pembiayaan, hingga lemahnya pengelolaan manajemen dan SDM koperasi itu sendiri.

“Kalau koperasi ingin bangkit, kita harus perbaiki sistemnya dari hulu ke hilir,” katanya.

Sejalan dengan itu, Roy Septa Abimanyu, yang mewakili Deputi Bidang Pengembangan Koperasi Panel Barus, menegaskan bahwa koperasi desa harus menjadi pondasi ekonomi nasional.

“Bicara ketahanan ekonomi berarti bicara dari desa. Dan koperasi adalah alat perjuangan paling relevan untuk itu,” tegas Roy.

Menanggapi peluang ini, Ki Edi Susilo, Sekretaris Koperasi Barisan Alumni Tamansiswa Nusantara, menyampaikan komitmennya untuk terlibat aktif. Menurutnya, Tamansiswa siap mengambil peran strategis melalui pendidikan, pelatihan, dan bahkan pengembangan program studi manajemen koperasi di lingkungan kampus-kampus yang berada dalam jaringan mereka.

“Pendidikan harus jadi jalan utama. Sebagai alumni Tamansiswa, kami percaya bahwa membangun ekonomi bisa di lakukan lewat pendekatan budaya dan pembelajaran,” kata Ki Edi. (r6)

Pos terkait