Denpasar,(DOC) – Upaya menjaga pasokan listrik sekaligus melestarikan alam Bali kini memasuki babak baru. PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) secara resmi menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali untuk mengelola jaringan transmisi yang melintasi kawasan konservasi.
Langkah strategis tersebut bermula dari penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Kantor BKSDA Bali, Denpasar, Senin (2/3/2026). Oleh karena itu, kolaborasi ini kini menjadi payung hukum sekaligus komitmen bersama dalam menjaga aset negara tanpa mengabaikan nilai ekologis lingkungan.
Menjaga Warisan Infrastruktur Sejak 1985
Selain itu, fokus utama kerja sama ini tertuju pada pengelolaan sembilan tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV pada jalur Kapal–Baturiti dan Baturiti–Pemaron. Jaringan vital tersebut melintasi dua area sensitif, yakni Cagar Alam Batukau serta TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan.
Menariknya lagi, infrastruktur ini merupakan “pemain lama” yang sudah menopang kebutuhan listrik masyarakat Tabanan dan Buleleng sejak mulai beroperasi pada tahun 1987. Maka dari itu, perawatan intensif menjadi kunci utama agar distribusi energi tetap lancar.
Keseimbangan Antara Energi dan Ekosistem
General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, menegaskan bahwa operasional di wilayah konservasi menuntut standar kehati-hatian yang tinggi.
“Kami menyadari kawasan ini memiliki nilai ekologis tinggi. Oleh sebab itu, kami melakukan setiap langkah pemeliharaan dengan koordinasi erat bersama BKSDA Bali. Harapannya, sistem tetap andal dan ekosistem Bali tetap lestari,” ujar Ika.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, melihat sinergi ini sebagai solusi untuk memenuhi kepentingan publik yang luas. Ia menekankan bahwa akses listrik sangat berkaitan erat dengan kualitas pendidikan serta kesehatan masyarakat.
“Kami memastikan bahwa seluruh proses, mulai dari penempatan hingga pemeliharaan SUTT, berjalan secara hati-hati. Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati kebutuhan publik tanpa harus mengorbankan kelestarian kawasan,” tegas Ratna.
Poin Utama Kerja Sama:
- Optimalisasi Aset: Langkah ini memudahkan PLN saat melakukan pemeliharaan rutin guna meningkatkan keandalan sistem.
- Standar Lingkungan: Kerja sama ini menjamin setiap kegiatan operasional tetap mengikuti regulasi pengelolaan kawasan konservasi.
- Keberlanjutan: Sinergi ini membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur energi dan perlindungan alam dapat berjalan beriringan (harmoni).
Sebagai penutup, PLN dan BKSDA Bali melalui PKS ini mengirimkan pesan kuat bahwa kemajuan teknologi tidak harus berbenturan dengan alam. Sebaliknya, keduanya justru saling mendukung demi masa depan Bali yang lebih hijau dan benderang. (ode/r7)





