Surabaya,(DOC) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan besar bagi industri makanan dan minuman (mamin). Pelaku usaha kini menghadapi dilema antara menaikkan harga produk atau mempertahankan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman mengatakan, sebagian produsen mulai menyesuaikan harga jual produk. Namun kenaikannya masih terbatas karena perusahaan khawatir pasar tidak mampu menyerap produk.
“Sebagian sudah menyesuaikan harga jual, meskipun tidak bisa besar karena mempertimbangkan daya beli,” ujar Adhi saat dikonfirmasi, Sabtu (16/5/2026).
Adhi menjelaskan, industri sulit menghindari kenaikan harga karena biaya produksi terus meningkat. Pelemahan rupiah ikut mendorong kenaikan harga bahan baku impor, kemasan, hingga biaya operasional lainnya.
Di sisi lain, perusahaan juga tidak bisa menaikkan harga terlalu tinggi. Jika daya beli masyarakat melemah, penjualan berisiko turun dan mengganggu keberlangsungan usaha.
Menurut Adhi, banyak perusahaan akhirnya memilih menyerap kenaikan biaya produksi dengan memangkas margin keuntungan demi menjaga pasar tetap bergerak.
“Terpaksa kenaikan bahan baku, kemasan dan lainnya di serap dengan mengurangi margin atau bahkan sampai tidak ada margin,” katanya.
Ketidakpastian Rupiah Jadi Tantangan
Gapmmi berharap nilai tukar rupiah segera stabil agar tekanan terhadap industri dapat mereda. Sebab, pergerakan rupiah memengaruhi biaya produksi sekaligus daya beli masyarakat.
Adhi menyebut ketidakpastian nilai tukar menjadi tantangan terbesar bagi pelaku usaha saat ini. Industri kesulitan menentukan langkah strategis karena belum ada kepastian sampai di level mana pelemahan rupiah akan berlangsung.
“Ketidakpastian ini yang menjadi masalah. Kita tidak tahu sampai berapa nilai tukar akan terjadi, sehingga sulit menentukan langkah yang akan diambil,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. Ia memastikan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan pemerintah terus melakukan langkah penguatan ekonomi.
“Enggak perlu panik. Karena pondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin,” kata Purbaya.
Ia juga menepis kekhawatiran bahwa kondisi ekonomi saat ini akan menyerupai krisis moneter 1998. Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan masa lalu.
“Kita enggak akan sejelek kayak tahun ’98 lagi. Dengan pondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya,” jelasnya.
Purbaya optimistis Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan nilai tukar agar kembali sesuai fundamental ekonomi nasional.
“Ya itu anda tanya Bank Sentral saja, mereka yang berwenang. Tapi saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti,” pungkasnya.(ode/r7)





