Rupiah Tembus Rp17.646 per Dolar AS, Kadin Jatim Ingatkan Ancaman PHK

Rupiah Tembus Rp17.646 per Dolar AS, Kadin Jatim Ingatkan Ancaman PHKSurabaya,(DOC) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menekan dunia usaha nasional. Kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi industri dan memperbesar ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengatakan kurs rupiah yang menyentuh Rp17.646 per dolar AS pada Kamis (21/5/2026) membuat pelaku usaha menghadapi tekanan berat di berbagai sektor.

Bacaan Lainnya

Menurut Adik, industri yang masih bergantung pada bahan baku impor merasakan dampak paling besar akibat pelemahan rupiah.

“Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha dan industri nasional. Mulai dari kenaikan biaya produksi hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat,” kata Adik di Surabaya.

Industri Impor Hadapi Tekanan Produksi

Adik menjelaskan, mayoritas industri nasional masih mengandalkan bahan baku impor dengan transaksi menggunakan dolar AS.

Pelaku industri masih mendatangkan komoditas seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik dari luar negeri. Ketergantungan impor bahan baku manufaktur Indonesia bahkan masih berada di atas 70 persen.

Tekanan tersebut kini mulai dirasakan sektor manufaktur, farmasi, otomotif, hingga tekstil.

“Pengusaha tidak bisa langsung menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat juga sedang tertekan. Akhirnya banyak yang mengurangi margin keuntungan sambil melakukan efisiensi,” ujarnya.

Pengusaha Mulai Kurangi Produksi

Selain menekan margin usaha, pelemahan rupiah juga mendorong pelaku usaha mengurangi pembelian bahan baku dan menurunkan kapasitas produksi.

Adik menilai ancaman PHK akan semakin besar jika kondisi ekonomi berlangsung terlalu lama dan permintaan pasar terus melemah.

“Kalau daya beli terus turun, pengusaha akan semakin berhati-hati. Produksi dikurangi dan ancaman PHK bisa terjadi,” katanya.

Meski begitu, Adik melihat produk lokal berbasis bahan baku domestik justru memiliki peluang lebih kompetitif dibanding produk impor.

Baca Juga:  1.390 Personel Siaga 24 Jam, PLN UIT JBM Pastikan Perayaan Imlek di Jawa Timur Berlangsung Tanpa Gangguan Listrik

Ia mencontohkan sektor pertanian dan peternakan Jawa Timur yang masih mampu menopang kebutuhan pasar dalam negeri.

Kadin Minta Pemerintah Genjot Infrastruktur

Di tengah tekanan ekonomi global, Kadin Jatim meminta pemerintah segera merealokasi anggaran ke sektor produktif yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

Adik menilai pembangunan infrastruktur dapat mempercepat perputaran ekonomi sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Pemerintah harus berani melakukan realokasi anggaran ke sektor yang lebih produktif, misalnya pembangunan infrastruktur,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat bantuan sosial dan bantuan tunai agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Yang paling dibutuhkan sekarang adalah menjaga konsumsi masyarakat. Kalau daya beli terjaga, pengusaha juga akan terbantu,” ujarnya.

Meski tekanan ekonomi global masih berlangsung, Adik tetap optimistis dunia usaha nasional mampu bertahan dengan strategi penyesuaian yang tepat.(ode/r7)

Pos terkait