Pemkot Surabaya sukses menyabet empat penghargaan bergengsi dalam Anugerah Kearsipan Nasional 2026 di Jakarta pada Rabu (20/5/2026). Selain meraih predikat Pengawasan Kearsipan dan Simpul Jaringan Terbaik, arsip kiprah Cak Kartolo sebagai maestro seni tradisi ludruk juga resmi dinobatkan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, mengatakan bahwa pengakuan tersebut menjadi bentuk penghormatan negara terhadap dedikasi panjang Cak Kartolo dalam melestarikan ludruk.
“Alhamdulillah kemarin dapat tiga penghargaan, salah satunya terkait simpul jaringan dan pengawasan kearsipan terbaik nasional. Cak Kartolo juga mendapat penghargaan Memori Kolektif Bangsa,” kata Yusuf, Jumat (22/5/2026).
Pengakuan terhadap arsip perjalanan seni Cak Kartolo menjadi perhatian tersendiri. Sosok yang dikenal luas sebagai maestro ludruk Jawa Timur itu dinilai berhasil menjaga eksistensi kesenian ludruk lintas zaman dan lintas generasi.
Usai menerima penghargaan, Cak Kartolo bahkan turut tampil membawakan jula-juli di hadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional Kearsipan. Penampilannya mendapat perhatian karena dinilai tetap relevan dan mampu diterima generasi muda.
Menurutnya, salah satu kekuatan utama Cak Kartolo adalah kemampuannya menyesuaikan ludruk dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas tradisinya.
“Cak Kartolo mampu menyesuaikan tradisi ludruk dengan perkembangan era dan wilayah. Dulu ludruk personelnya banyak dan musiknya masih konvensional, sekarang beliau sudah memakai sistem digital. Itu bentuk adaptasi,” jelasnya.
Yusuf menambahkan, Cak Kartolo juga termasuk seniman yang mampu tampil solo meski memiliki basis pertunjukan kelompok. Kemampuan tersebut dinilai jarang dimiliki seniman ludruk generasi lama.
“Cak Kartolo adalah legenda yang bisa tampil solo, padahal dasarnya grup. Tidak semua seniman bisa seperti itu,” imbuhnya.
Tak hanya piawai di atas panggung, Cak Kartolo juga dinilai memiliki kesadaran arsip yang kuat. Selama puluhan tahun, ia mendokumentasikan perjalanan seninya secara mandiri, mulai dari naskah pertunjukan, skrip, agenda kegiatan, hingga catatan tangan.
“Aspek penilaiannya berasal dari arsip-arsip milik beliau. Sejak tahun 1960-an beliau sudah mendokumentasikan kegiatannya sendiri. Tidak punya manajer, tapi administrasinya tertata,” terangnya.
Menurutnya, arsip tersebut menjadi bukti konsistensi Cak Kartolo dalam menjaga ludruk agar tetap hidup mengikuti perkembangan audiens.
Program Memori Kolektif Bangsa sendiri merupakan upaya ANRI menyelamatkan arsip bernilai sejarah yang merepresentasikan identitas bangsa. Arsip yang ditetapkan harus melalui proses seleksi ketat, mulai dari nominasi hingga tahapan verifikasi.
“Pengajuan Memori Kolektif Bangsa dilakukan setiap tahun dan ada proses seleksi panjang. Tidak bisa langsung lolos begitu saja,” tandasnya.
Untuk diketahui, Cak Kartolo dikenal sebagai seniman ludruk yang identik dengan jula-juli, yakni kidung pantun atau parikan berbahasa Jawa dialek Jawa Timuran atau Suroboyoan yang biasa menjadi pembuka pertunjukan ludruk.
Penghargaan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa ludruk bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bagian penting dari memori budaya bangsa yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.





