Lumajang,(DOC) – Seorang penambang pasir bernama Veri Irawan (33), warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, mengalami luka bakar serius setelah tertimbun material panas sisa awan panas guguran (APG) Gunung Semeru di kawasan sekitar Jembatan Gladak Perak, Sabtu (20/6/2026) dini hari.
Korban mengalami luka bakar hingga sekitar 80 persen di tubuhnya dan saat ini menjalani perawatan intensif di RSUD dr Haryoto Lumajang. Kondisinya dilaporkan kritis akibat luasnya luka bakar serta potensi gangguan pada organ vital.
Kronologi Kejadian
Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan peristiwa itu terjadi saat korban bersama sekitar 16 penambang lain melakukan aktivitas penambangan pasir secara manual di kawasan aliran lahar Gunung Semeru.
Saat berada di lokasi di bawah Jembatan Gladak Perak, material pasir yang masih menyimpan panas tinggi tiba-tiba longsor dan menimpa tubuh korban.
“Korban bersama sekitar 16 rekannya melakukan aktivitas penambangan pasir secara manual. Saat aktivitas berlangsung, tebing pasir di dekat lokasi tiba-tiba ambrol dan menimpa korban,” kata Isnugroho.
Rekan korban kemudian segera memberikan pertolongan dan mengevakuasi Veri ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Kondisi Korban Kritis di RSUD dr Haryoto
Setibanya di RSUD dr Haryoto Lumajang, korban langsung mendapatkan penanganan intensif dari tim medis. Luka bakar yang sangat luas membuat kondisi korban masuk kategori kritis.
Wakil Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang, dr Wawan Arwijanto, mengatakan tim medis telah melakukan tindakan operasi awal untuk membersihkan luka bakar serta pemasangan akses cairan guna menjaga kondisi pasien.
“Korban sudah dilakukan operasi untuk membersihkan seluruh luka bakarnya, pemasangan saluran cairan, dan bantuan pernapasan. Luka bakar mencapai lebih dari 80 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, tim medis juga mewaspadai kemungkinan gangguan pada saluran pernapasan serta risiko komplikasi akibat kehilangan cairan tubuh dalam jumlah besar.
Bupati Lumajang Tinjau Langsung Korban
Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma mendatangi RSUD dr Haryoto untuk memastikan kondisi korban sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga.
Indah mengungkapkan, laporan awal menyebut korban mengalami luka bakar sekitar 43 persen. Namun setelah pemeriksaan lanjutan, luas luka bakar meningkat menjadi sekitar 80 persen.
“Artinya hampir seluruh tubuh korban mengalami luka bakar. Penanganan terbaik sudah dilakukan tim medis, dan saat ini fokus pada stabilitas pasien serta pencegahan infeksi,” kata Indah.
Imbauan Larangan Aktivitas di Kawasan Rawan Semeru
Indah menegaskan peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat, khususnya penambang pasir yang masih beraktivitas di kawasan rawan bencana Gunung Semeru.
Ia mengingatkan bahwa Pemkab Lumajang telah berulang kali mengeluarkan larangan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak Semeru, serta pembatasan aktivitas di sekitar aliran sungai berisiko.
“Gunung Semeru masih aktif. Kami mengimbau masyarakat tidak meremehkan potensi bahaya, terutama aktivitas penambangan di atas pukul 18.00 WIB karena risikonya sangat tinggi,” tegasnya.
Kondisi Pasien Masih Kritis
Hingga kini, korban masih menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis. Tim medis terus melakukan pemantauan ketat terhadap fungsi organ vital pasien.
“Kami akan berupaya maksimal. Mohon doa agar kondisi pasien dapat membaik,” kata dr Wawan.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat tingginya risiko aktivitas masyarakat di kawasan rawan bencana Gunung Semeru, terutama saat kondisi material vulkanik masih menyimpan panas dan potensi bahaya. (r7)





