Ekonomi Jawa Timur Melesat 5,96% di Awal 2026, Lampaui Nasional dan Pulau Jawa

Tahan Gejolak Global, BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen
Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan I-2026 mencapai 5,96 persen secara tahunan. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC)Perekonomian Provinsi Jawa Timur (Jatim) menorehkan performa impresif di awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan I-2026 mencapai 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini tidak hanya lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, tetapi juga sukses melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,61 persen dan rata-rata Pulau Jawa di angka 5,79 persen.

Dengan capaian ini, Jawa Timur mengukuhkan posisinya sebagai motor penggerak utama sekaligus kontributor terbesar kedua bagi perekonomian nasional, dengan andil 14,40 persen terhadap PDB nasional dan 25,16 persen terhadap ekonomi Pulau Jawa.

Bacaan Lainnya

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengungkapkan bahwa lonjakan pertumbuhan di awal tahun ini didorong oleh kombinasi kuatnya konsumsi domestik dan akselerasi investasi.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 tetap kuat dan berada di atas pertumbuhan nasional maupun Pulau Jawa,” ujar Ibrahim, Selasa (23/6/2026).

Melesatnya ekonomi Jatim di awal tahun dipicu oleh tingginya aktivitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), mulai dari Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi, Ramadan, hingga Idulfitri 2026.

Dari sisi permintaan, potret pertumbuhan tercatat sebesar 5,15 persen untuk konsumsi rumah tangga, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 5,13 persen, konsumsi pemerintah 2,13 persen, dan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencapai 6,66 persen. Sementara itu, ekspor tumbuh 6,65 persen dan impor meningkat 6,23 persen.

Kuatnya konsumsi ini juga tecermin dari lonjakan realisasi belanja APBN di daerah. Belanja modal kementerian/lembaga meroket 290,47 persen, sementara belanja pegawai naik 15,29 persen. Indikator ritel turut mengonfirmasi tren ini, di mana penjualan sandang tumbuh 16,03 persen dan makanan-minuman naik 12,58 persen.

Dari sisi lapangan usaha, geliat ekonomi awal tahun ini digerakkan oleh sektor perdagangan, akomodasi, makanan dan minuman, pertanian, serta sektor konstruksi. Akselerasi investasi fisik di Jatim terlihat nyata melalui proyek pembangunan Sekolah Rakyat, revitalisasi fasilitas pendidikan, serta masifnya pembangunan infrastruktur jalan.

Baca Juga:  Festival Heritage Peneleh 2024 Hadirkan Hiburan dan Edukasi Sejarah

Meski demikian, laju pertumbuhan Jatim sempat tertahan oleh perlambatan ekspor beberapa komoditas utama di awal tahun. Ekspor perhiasan emas luar negeri mengalami kontraksi sebesar 44,27 persen, sedangkan komoditas tembaga, kayu, dan produk kimia juga mengalami penurunan.

Memasuki triwulan kedua, BI memprakirakan momentum pertumbuhan ekonomi Jatim akan tetap terjaga solid. Hal ini didukung oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini yang berada di level optimistis (118,13) serta pulihnya kinerja ekspor nonmigas pada April 2026, di mana ekspor komoditas lemak & minyak tumbuh 55,63 persen dan tembaga melonjak 80,44 persen.

Aktivitas digitalisasi sistem pembayaran juga terus melaju kencang per April 2026. Hal ini terlihat dari transaksi BI-FAST tumbuh 70,59 persen, transaksi  QRIS melonjak 43,11 persen dan transaksi uang elektronik naik 41,24 persen.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika global, BI melalui Rapat Dewan Gubernur (17-18 Juni 2026) telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen. BI juga memperkuat pasar keuangan dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp1.021,13 triliun per 15 Juni 2026.

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan perekonomian Jawa Timur sepanjang tahun 2026 akan tumbuh solid di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, meningkat dibanding capaian tahun 2025 yang sebesar 5,33 persen. Sementara itu, tingkat inflasi diproyeksikan tetap aman dan terkendali dalam sasaran target nasional 2,5±1 persen.

Pos terkait