Surabaya,(DOC) – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, memaparkan enam langkah strategis yang di nilai penting untuk menjaga sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Timur.
Menurut Ibrahim, berbagai upaya penguatan tersebut di yakini mampu menopang proyeksi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2026 yang di perkirakan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.
“Langkah-langkah ini kami yakini dapat memberikan dukungan nyata terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ke depan,” ujar Ibrahim dalam acara Media Briefing yang di gelar di Surabaya, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, strategi pertama yang perlu di lakukan adalah mempercepat hilirisasi pada sektor-sektor unggulan serta pembangunan simpul logistik. Langkah ini terutama di fokuskan pada industri pengolahan, pertanian-perkebunan, dan sektor perdagangan.
“Hal ini penting karena Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai lumbung pangan nasional, pusat manufaktur utama di kawasan Indonesia Timur, serta pusat perdagangan yang sangat potensial,” jelasnya.
Upaya kedua, lanjut Ibrahim, adalah memperkuat struktur ekspor daerah. Caranya melalui diversifikasi produk dan pasar ekspor, serta mendorong hilirisasi komoditas utama agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Strategi ketiga adalah mendorong pengembangan agroindustri baik di sektor hulu maupun hilir dengan memastikan keterkaitan antarsektor berjalan optimal. Dengan demikian, rantai produksi dapat semakin terintegrasi dan efisien.
Pengendalian Inflasi
Sementara itu, upaya keempat di fokuskan pada pengendalian inflasi pangan melalui penguatan ketahanan pasokan secara terpadu. Ibrahim menekankan pentingnya koordinasi yang erat dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga.
“Pengendalian inflasi pangan yang baik akan sangat mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tuturnya.
Langkah kelima adalah meningkatkan daya saing wilayah. Hal tersebut di lakukan melalui penguatan infrastruktur, perluasan kemitraan strategis, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tenaga kerja.
Terakhir, strategi keenam adalah memperkuat kelembagaan ekonomi daerah dengan mengoptimalkan peran Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED).
Lebih lanjut Ibrahim menyampaikan, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2026 akan tumbuh solid dan kuat di rentang 4,9 persen hingga 5,7 persen secara tahunan (year on year). Adapun dari sisi inflasi, pihaknya memperkirakan inflasi Jawa Timur tetap terkendali sesuai dengan sasaran nasional, yakni sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Dengan sinergi kebijakan yang kuat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis kinerja ekonomi Jawa Timur ke depan akan semakin tangguh dan berdaya saing,” pungkas Ibrahim. (r6)





