Mojokerto, (DOC) — Di balik sebatang cokelat premium, tersimpan rantai panjang proses yang melibatkan petani, inovasi teknologi, hingga penguatan identitas lokal. Hal inilah yang dihadirkan oleh UMKM Cokelat Mojopahit dalam mengangkat potensi kakao lokal Mojokerto ke pasar yang lebih bernilai.
Berbeda dengan kebanyakan usaha olahan cokelat, perjalanan Cokelat Mojopahit justru berawal dari sektor pariwisata desa sejak 2004. Dari aktivitas wisata tersebut, muncul kesadaran akan besarnya potensi komoditas kakao yang selama ini belum dioptimalkan.
Chief Technology Officer (CTO) Cokelat Mojopahit, Alif Wahyu Dewa, menjelaskan bahwa awalnya kakao hanya dijual dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Melihat peluang tersebut, pihaknya mulai menggandeng petani lokal untuk mengembangkan budidaya kakao secara berkelanjutan.
“Dari situ terbentuk ekosistem. Petani yang sebelumnya tidak menanam kakao mulai beralih, hingga akhirnya terbentuk desa berbasis kakao,” ujarnya, Selasa (21/4).
Langkah tersebut menjadi fondasi penting sebelum masuk ke tahap hilirisasi. Pada 2018, Cokelat Mojopahit mulai memiliki fasilitas produksi sendiri dan mengembangkan identitas merek yang kuat, terinspirasi dari sejarah besar Mojokerto sebagai pusat Kerajaan Majapahit.
Tidak hanya mengandalkan nama, kekuatan utama brand ini terletak pada konsep terintegrasi dari hulu ke hilir. Proses produksi dimulai dari fermentasi biji kakao selama lima hari, dilanjutkan dengan pengeringan, sortasi sesuai standar, hingga pengolahan menjadi pasta kakao.
Dari bahan dasar tersebut, kakao kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari cokelat batang hingga bubuk kakao. Pendekatan ini memastikan kualitas produk tetap terjaga sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Di tengah dominasi produk cokelat massal, Cokelat Mojopahit memilih fokus pada produksi cokelat jenis couverture, yakni kategori cokelat premium dengan kandungan kakao yang lebih tinggi dan kualitas lebih baik dibandingkan cokelat kompon.
“Selama ini masyarakat lebih banyak mengonsumsi cokelat imitasi. Padahal cokelat asli berbahan kakao memiliki kualitas dan manfaat yang berbeda,” jelas Alif.
Namun, upaya menghadirkan produk premium tidak lepas dari tantangan, terutama dalam hal edukasi pasar. Persepsi bahwa cokelat identik dengan makanan tidak sehat masih cukup kuat di masyarakat.
Untuk itu, Cokelat Mojopahit tidak hanya menjual produk, tetapi juga aktif melakukan edukasi melalui inovasi produk yang disesuaikan dengan selera konsumen Indonesia, seperti berbagai olahan camilan berbasis cokelat.
Menariknya, model bisnis yang dijalankan juga terintegrasi dengan wisata edukasi. Pengunjung tidak hanya membeli produk, tetapi juga dapat melihat langsung proses produksi hingga mencoba membuat cokelat sendiri.
“Konsep kami bukan sekadar pabrik, tetapi juga ruang belajar dan pengalaman bagi masyarakat,” imbuhnya.
Di tengah posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao dunia, Alif menilai tantangan terbesar terletak pada hilirisasi. Selama ini, biji kakao berkualitas justru lebih banyak diekspor, sementara nilai tambahnya dinikmati pasar luar negeri. “Potensi ini seharusnya bisa dinikmati juga oleh pasar domestik. UMKM punya peran penting untuk mendorong hilirisasi,” tegasnya.
Selain mengandalkan penjualan di lokasi wisata, Cokelat Mojopahit juga memperluas pasar melalui pengiriman ke berbagai daerah. Untuk distribusi, mereka mempercayakan layanan logistik kepada JNE, yang dinilai mampu menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen.
Melalui strategi hilirisasi, inovasi produk, dan penguatan identitas lokal, Cokelat Mojopahit menjadi contoh bagaimana UMKM mampu naik kelas. Tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan nilai tambah, cerita, dan kualitas yang berdaya saing di pasar.
“Prinsipnya, kami mengikuti kebutuhan pasar tanpa mengorbankan kualitas. Di situlah keberlanjutan bisnis bisa terjaga,” pungkas Alif.





