
Surabaya, (DOC) – Cuaca kemarau ekstrem dan embusan angin kencang di Kota Surabaya tidak hanya memicu lonjakan kebakaran lahan kosong, tetapi juga mengancam area pemukiman akibat kebiasaan baru masyarakat. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya merilis imbauan khusus terkait maraknya penggunaan kendaraan listrik dan pengisian daya (charger) gadget yang berisiko tinggi memicu kebakaran.
Kepala DPKP Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, meminta warga untuk tidak lagi mengisi daya motor atau sepeda listrik di dalam area rumah, serta menghentikan kebiasaan membiarkan kabel chargertetap terhubung ke stopkontak tanpa pengawasan.
“Proses pengisian daya minimal dilakukan di teras untuk meminimalkan risiko jika terjadi korsleting. Kabel charger yang dibiarkan menancap tanpa pengawasan kerap memicu kepulan asap hingga kobaran api besar,” tegas Laksita Rini, Kamis (17/9/2026).
Peringatan ini dikeluarkan seiring melonjaknya angka kedaruratan di Kota Pahlawan. Data DPKP mencatat kejadian kebakaran pada Agustus 2026 melonjak hingga 55 kasus naik sekitar 77 persen dibandingkan Agustus 2025 yang mencatatkan 31 kasus.
Secara akumulatif, hingga pertengahan September 2026, angka kedaruratan telah menyentuh 232 kasus, hampir mendekati total kasus sepanjang tahun 2025 yang mencapai 271 kejadian.
Menurut Rini, lonjakan kasus di bulan September didominasi kebakaran alang-alang di tanah milik pengembang yang belum dibangun, seperti di wilayah Surabaya Barat, Timur (Gunung Anyar), dan Utara. Kebakaran ini terjadi hampir setiap hari dengan catatan sedikitnya 21 kejadian, yang sering dipicu oleh pembakaran sampah, semak, atau buangan puntung rokok sembarangan.
Selain faktor lahan, kelalaian kecil dalam rumah tangga juga menjadi penyumbang utama titik api. Mulai dari lupa mematikan kompor, kabel listrik tua, steker bertumpuk, obat nyamuk bakar di dekat bahan mudah terbakar, hingga kebocoran tabung gas.
“Jika terjadi kebocoran atau letupan tabung LPG, kami minta warga tidak panik. Segera tutup tabung menggunakan kain atau lap basah,” imbaunya.
Meski angka kasus terbilang tinggi, DPKP mengapresiasi kecepatan respons warga Surabaya melalui program edukasi Kampung Pancasila. Kesadaran masyarakat untuk melapor ke Command Center 112 dinilai sangat membantu petugas bertindak dalam kurun waktu tiga menit pertama sebelum api membesar.
DPKP meminta seluruh elemen masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan, memeriksa instalasi listrik secara berkala, mencabut alat elektronik saat berbepergian, serta menghentikan kebiasaan sepele yang dapat merugikan lingkungan sekitar.





