Epidemiologi: DKI Jadi Kota yang Paling Sulit Tangani Covid-19 di Seluruh Dunia

Jakarta (DOC) – Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono menilai DKI Jakarta menjadi kota yang paling sulit dalam menangani pandemi Covid-19 di seluruh dunia.

Bacaan Lainnya

“Karena sudah menjadi episenter, yang seharusnya melakukan karantina wilayah sejak awal, tapi tidak dilakukan dan menyebar ke seluruh wilayah,” kata Pandu, dilansir Tempo.co, Minggu (11/10).

Penanggulangan wabah di Ibu Kota semakin sulit karena menjadi wilayah terbuka. Seluruh penduduk dari berbagai wilayah di negara dan dunia bebas masuk ke Jakarta.

Menurut Pandu, jika Pemerintah DKI bisa menanggulangi wabah ini dengan baik, bakal tercatat sebagai kota yang hebat dalam menghadapi pagebluk ini. “Jakarta bisa mengendalikan pandemi dengan baik sangat hebat. Tapi sulit.”

Belum lagi adanya kepentingan politik dan pemulihan ekonomi yang membuat wabah virus Covid-19 ini semakin sulit ditanggulangi. Kebijakan yang mengutamakan pemulihan ekonomi membuat interaksi masyarakat semakin tinggi dan berpotensi meningkatkan kasus penularan.

Selain itu, penularan wabah sulit ditekan karena Pemerintah DKI tidak menerapkan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB secara total saat menarik rem darurat pada 14 September kemarin. Pemerintah DKI tidak bisa melakukan pembatasan total karena tekanan dari pemerintah pusat yang ingin memulihkan ekonomi.

“Ada tekanan dari Airlangga (Menko Perekonomian) dan kawan-kawannya yang tidak mengerti pandemi. Mereka hanya memahami ekonomi.”

Akhirnya, kata dia, Pemerintah DKI memberikan kebijakan dengan membolehkan perkantoran beroperasi dengan kapasitas 25 persen bagi yang non esensial dan esensial 50 persen. “Harusnya diketatkan seperti yang pertama saat April lalu.” (tc)

Baca Juga:  Tarif MRT-LRT-Transjakarta Jadi Rp80 Saat HUT TNI Minggu 5 Oktober

Pos terkait