Awal 2026, Jawa Timur Alami Deflasi 0,2 Persen

Awal 2026, Jawa Timur Alami Deflasi 0,2 Persen

Surabaya,(DOC) – Tekanan harga di Jawa Timur mulai mereda pada awal 2026. Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,2 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Januari 2026. Kondisi tersebut di pengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan strategis serta penyesuaian tarif jasa transportasi.

Bacaan Lainnya

Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Ike Rahayu Sri, menjelaskan deflasi terjadi seiring membaiknya pasokan bahan pangan di berbagai daerah. Sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan tomat mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.

“Pada Januari 2026, Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,2 persen,” ujar Ike dalam keterangannya, Rabu (4/2).

Ia menyebutkan, melimpahnya pasokan pangan tidak hanya berasal dari produksi lokal yang mulai memasuki masa panen, tetapi juga di topang kelancaran distribusi antarwilayah. Hal tersebut membuat harga kebutuhan pokok kembali stabil setelah sempat mengalami kenaikan pada akhir tahun 2025.

Selain faktor pasokan, normalisasi permintaan pasca perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 turut berkontribusi terhadap penurunan harga. Usai periode libur panjang, permintaan masyarakat terhadap komoditas seperti daging ayam ras dan telur ayam ras kembali menurun, sehingga mendorong koreksi harga.

BPS mencatat, cabai rawit menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan penurunan harga mencapai 23,2 persen dan andil 0,11 persen terhadap deflasi bulanan. Di susul daging ayam ras yang turun 4,91 persen dengan kontribusi 0,09 persen, serta bawang merah yang terkoreksi 17,5 persen dengan andil 0,08 persen.

Penurunan Paling Tajam

Sementara itu, cabai merah mengalami penurunan harga paling tajam, yakni 35,09 persen, dengan kontribusi 0,05 persen terhadap deflasi Januari 2026.

Dari kelompok transportasi, tarif angkutan udara juga mengalami penyesuaian turun sebesar 3,49 persen, yang turut menyumbang deflasi sebesar 0,05 persen.

Baca Juga:  KPID Jatim Sambangi Ponpes Lirboyo Tindak Lanjut Aduan Publik Soal Etika Siaran

Meski demikian, tidak seluruh komoditas mengalami penurunan harga. BPS mencatat harga bawang putih justru mengalami kenaikan akibat berkurangnya pasokan impor yang biasanya masuk pada awal tahun.

Secara keseluruhan, BPS menilai deflasi Januari 2026 menjadi sinyal positif bagi stabilitas harga di Jawa Timur. Kondisi ini mencerminkan meredanya tekanan inflasi musiman pasca libur akhir tahun serta terjaganya pasokan dan distribusi bahan pangan.

“Stabilitas pasokan menjadi kunci utama terjaganya harga di awal 2026,” tutup Ike.

Dengan harga yang lebih terkendali, daya beli masyarakat di harapkan tetap terjaga. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan pun di harapkan terus mengawal distribusi agar stabilitas harga dapat di pertahankan sepanjang tahun. (*)

Pos terkait