Surabaya,(DOC) – Simpang siur kondisi Machfud Arifin (MA) selaku Bakal Calon Wali Kota (Bacawali) Surabaya akhirnya terjawab. Secara blak-blakan, mantan Kapolda Jatim ini membuka kondisi dirinya yang sebelumnya disebut positif Covid-19.
Hal ini disampaikan MA saat pers konferensi secara virtual, Jumat (11/9/2020).
” Alhamdullillah saya bersama istri saat ini bisa menjelaskan, karena masih ada berita simpang siur dengan kondisi saya. Jadi harus virtual dulu saja,” ujar MA.
Dia menjelaskan, jika kondisinya saat sangat prima, sangat fit, bisa berolahraga. Bisa sepedaan, jalan kaki. Bahkan satu jam masih bisa.
Lebih lanjut, Machfud Arifin yang didampingi istrinya menjelaskan, pada awal suara hilang dan tenggorokannya sakit pada 24 Agustus. Kemudian oleh dokter pribadinya diberi obat. Untuk meyakinkan MA menjalani test swab pada 29 Agustus dan dinyatakan positif orang tanpa gejala (OTG).
Sejak dinyatakan positif Covid-19, MA langsung melakukan isolasi mandiri dan mengonsumsi obat selama seminggu.
Pada 5 September, M test swab lagi dan dinyatakan negatif. Dengan begitu, ketika mendaftarkan diri ke KPU Surabaya, Minggu (6/9/2020), MA sudah dinyatakan negatif Covid-19. “Untuk itu, Minggu (6/9) saya memberanikan diri dengan tetap menjaga protokol kesehatan menggunakan masker, face shiled dan pakai sarung tangan mendaftar ke KPU,” ungkap dia.
Kini setelah kondisinya fit, MA siap mengikuti perintah KPU Surabaya atau dari RSUD dr Soetomo untuk pemeriksaan kesehatan lanjutan.”Kapan saja saya siap,” tandas MA.
Terkait hasil pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari pendaftaran Pilkada Surabaya, dr Dany Irawan selaku dokter penyakit dalam yang merawat Machfud Arifin menjelaskan secara ilmiah.
“Saya terus memonitor keadaan beliau. Saya garisbawahi, gejalanya mulai 24 Agustus. Pasien dengan kondisi gejala ringan, karena suara parau, pada saat itu kami lakukan isolasi,” jelas dr Dani.
“Berdasarkan aturan WHO, dibutuhkan 10 hari isolasi plus tiga maka tahapan isolasi dianggap selesai. Maka, jika dihitung mulai 24 Agustus, maka 5 September dianggap sehat,” jelas dia.
Terkait hasil pemeriksaan di RSUD dr Soetomo, pada Senin (7/9), dr Dani mengungkapkan jIka hasilnya dianggap terdeteksi. Memang dari WHO menjelaskan, untuk mendiagnosa tidak ada cara lain dengan menggunakan Swab PCR. Swab hanya untuk mendeteksi fragmen virus itu. “Jadi sekalipun swab itu positif, tidak serta merta akan menularkan ke orang lain. Itu dari WHO,” beber dia.
Lebih jauh , dia menjelaskan, untuk menularkan ada banyak faktor, misalnya apakah MA akan mereplikasi diri. Biasanya lima hari setelah itu tubuh akan mengeluarkan antibodi alami. “Dalam kaitan ilmiah, kalau sudah sembilan hari, terutama dengan pasien gejala ringan, virus akan sulit bisa menyebar,” pungkas dia.(dhi)