Jakarta,(DOC) – Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mulai menimbulkan dampak serius, terutama pada sektor pertanian. Salah satu dampak yang kini di antisipasi adalah meningkatnya potensi gagal panen, khususnya untuk tanaman padi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa risiko gagal panen diperkirakan meningkat menjelang akhir 2025, terutama pada November dan Desember yang dikenal sebagai periode cuaca ekstrem.
“Risiko atau potensi gagal panen ini berpeluang meningkat menjelang akhir 2025, termasuk pada November dan Desember, yang memiliki risiko lebih besar karena cuaca ekstrem seperti banjir,” ujarnya, Selasa (2/12).
Kerusakan yang di timbulkan bencana berdampak langsung pada lahan pertanian di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Saat ini, BPS memperpanjang pemantauan lapangan melalui Kerangka Sampel Area (KSA) untuk mengukur luasan potensi gagal panen. Hasil resmi untuk November 2025 di perkirakan di rilis pada Januari 2026.
Pudji juga menjelaskan bahwa bencana di Sumatra memengaruhi pengumpulan data indeks harga konsumen (IHK) karena akses infrastruktur terputus dan aktivitas pasar terganggu. Kondisi ini menyebabkan sejumlah daerah mengalami deflasi bulanan. Aceh mencatat deflasi terdalam sebesar 0,67 persen mtm, di susul Sumatera Utara 0,42 persen, dan Sumatera Barat 0,24 persen. Sementara itu, secara nasional Indonesia mencatat inflasi 0,17 persen mtm, inflasi tahunan 2,72 persen yoy, dan 2,27 persen ytd.
“Bencana di tiga wilayah ini terjadi pada pertengahan minggu keempat November. Infrastruktur terkendala, sehingga pasar tempat survei IHK terdampak, seperti di Sibolga. Data pasar masih terus kami usahakan,” jelasnya.
Menurut BPS, dampak nyata bencana terhadap inflasi dan sektor pertanian kemungkinan baru terlihat dalam rilis data bulan mendatang.
“Tidak di bulan ini terlihat dampaknya. Bulan depan akan kita lihat,” tegas Pudji. (r6)





