
Surabaya,(DOC) – Panitia Khusus (Pansus) DPRD DKI Jakarta menemui Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk meminta saran menangani persoalan banjir yang masih menghantui warga Jakarta.
Pansus tersebut memang khusus mencari solusi problem banjir di wilayah ibukota yang nantinya akan diimplementasikan ke dalam kebijakan Pemerintah Provisi (Pemprov) DKI Jakarta.
Wali Kota Risma dianggap mampu menangani banjir di Surabaya, sehingga kebijakannya dipelajari untuk di adopsi di Jakarta.
Salah satu anggota Pansus Banjir DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina menyampaikan, ruwetnya menangani banjir di DKI Jakarta, sehingga dia meminta Wali Kota Risma untuk memberikan saran, supaya DKI Jakarta bisa mengatasi banjir yang seakan tidak bisa ditangani oleh Pemprov DKI.
“Kami Pansus Banjir punya kesungguhan untuk menyelesaikan banjir di Jakarta, Ibu saran apa sih yang bisa dilakukan di Jakarta? Mungkin ada saran apa supaya ada kerja nyata dari kami dalam mengatasi banjir di DKI Jakarta?” tanya Wa Ode Herlina, di ruang pertemuan Balaikota Surabaya, Kamis (22/10/2020).
Mendengar pertanyaan tersebut, Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini, tampak hati-hati memberi saran.
“Kalau saran ini, karena saya diminta lho ya, nanti saya salah lagi,” ujarnya di hadapan para tamunya.
Risma mengaku, jika dirinya sempat mendengar bahwa bidang pedestrian itu berada di bawah Dinas Pertamanan, sedangkan bidang saluran berada di Dinas Pekerjaan Umum (PU).
“Yang saya dengar itu, katanya Pedestrian itu di bawah Dinas Pertamanan, sementara salurannya ada di PU. Ini tidak bisa manajemen seperti itu, karena kalau dua, satunya pingin bangun apa gitu, koordinasinya harus kuat. Kalau tidak kuat, dia akan saling merugikan satu sama lainnya, makanya kemudian dibangun aja, sementara salurannya tidak diperbaiki,” katanya.
Selain itu, kapasitas salurannya juga harus dihitung. Jadi, kapasitas saluran air itu dapat menampung berapa meter kubik, itu harus dihitung dengan matang, supaya air bisa tertampung.
“Di samping itu, dulu Bu Erna (Kepala Dinas PU dan Pematusan) bilang bahwa itu banjir kiriman, terus saya tanya, emang itu kiriman dari Bupati Sidoarjo? Kiriman dari Bupati Mojokerto? Atau kita harus menyalahkan Tuhan? Memang letak kita ini diujung. Makanya harus bergerak, tidak beralasan aja. Sulit iya, makanya kita kerjakan. Ini sudah karunia Tuhan, ini sudah takdir sehingga harus kita kerjakan dan atasi,” tegasnya.
Risma juga menjelaskan, bahwa DKI Jakarta sudah harus berpikir bagaimana mengurangi debit air sebelum masuk kota. Sebab, itu harus dihitung dan harus dikerjakan supaya air itu tidak masuk semuanya ke dalam kota.
Ia juga mengaku sempat melihat peta saluran DKI ketika dirinya diminta berbicara di salah satu forum, akhirnya saat itu dia tahu bahwa sebelum masuk kota, ada dua saluran terpisah, dan itu harus dimanfaatkan untuk memecah air supaya tidak semuanya masuk ke dalam kota.
“Pasti bisalah mengatasi banjir di sana, karena anggarannya juga besar dibanding Surabaya,” pungkasnya.(robby)





