Dosen Unair Ingatkan Risiko Banjir Surabaya Meningkat Jelang Puncak Hujan 2026

Dosen Unair Ingatkan Risiko Banjir Surabaya Meningkat Jelang Puncak Hujan 2026Surabaya,(DOC) – Surabaya masih menghadapi ancaman banjir setiap musim penghujan. Genangan yang muncul di sejumlah titik setelah hujan deras beberapa hari terakhir menjadi tanda bahwa persoalan banjir belum terselesaikan secara menyeluruh.

Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair), Dio Alif Hutama, menilai risiko banjir dapat meningkat jika infrastruktur kota tidak segera diperbaiki. Ia menyebut kemampuan drainase Surabaya masih terbatas untuk menghadapi cuaca ekstrem.

Bacaan Lainnya

“Genangan yang muncul menunjukkan drainase Surabaya belum memadai, terutama saat menghadapi hujan ekstrem. Permukaan kota yang tertutup beton membuat air sulit meresap, sementara beberapa saluran mengalami sedimentasi,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).

Dio menambahkan, hujan lebat dalam waktu singkat mudah melampaui kapasitas drainase, apalagi jika saluran tersumbat sampah.

Menurut Dio, Surabaya juga menghadapi risiko banjir rob. Gelombang pasang dari Selat Madura dapat memperparah genangan di wilayah pesisir.

“Beton dan aspal yang semakin luas membuat air tidak meresap secara alami. Akibatnya air hujan mengalir ke permukiman atau jalan,” jelasnya.

BMKG memprediksi puncak musim hujan Surabaya terjadi pada Januari–Februari 2026. Cuaca ekstrem diperkirakan menyertai puncak hujan tersebut.

Dio meminta Pemerintah Kota Surabaya mempercepat langkah preventif, termasuk normalisasi saluran, perawatan pompa air, dan pengecekan pintu air maupun pintu laut.

Dio juga mendorong optimalisasi bozem atau kolam retensi untuk menampung air hujan sebelum dialirkan ke sungai atau laut.

“Pemerintah tidak cukup hanya memperbaiki saluran. Kota harus menjaga lahan resapan seperti ruang terbuka hijau agar tidak berubah fungsi,” tegasnya.

Selain itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan saluran agar tidak terjadi penyumbatan.

Dio menekankan perlunya sinergi pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi risiko banjir.

“Penanganan banjir harus melibatkan semua pihak. Pemerintah wajib memastikan infrastruktur bekerja optimal, dan masyarakat ikut menjaga lingkungan. Dengan kerja bersama, Surabaya bisa lebih resilien menghadapi cuaca ekstrem,” pungkasnya.(ode/r7)

Pos terkait