Lumajang, (DOC) – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Lumajang menggelar pameran dan bazar produk literasi dalam rangka Festival Literasi Lumajang 2026. Kegiatan ini melibatkan perwakilan perpustakaan desa dan kelurahan dari 21 kecamatan.
Pameran berlangsung di halaman depan Perpustakaan Mula Malurung Lumajang, Senin (14/9/2026). Kegiatan tersebut digelar selama tiga hari, mulai 14 hingga 16 September 2026.
Festival Literasi Lumajang 2026 mengusung tema “Lumajang Unggul, Amanah dan Berkeadilan”. Pameran menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang menampilkan hasil kreativitas masyarakat setelah mengikuti berbagai program literasi di perpustakaan desa dan kelurahan.
Plt Kepala Bidang Pengelolaan dan Pelayanan Perpustakaan Disarpus Lumajang, Tutik Endriyani, mengatakan sebanyak 21 perwakilan perpustakaan desa dan kelurahan mendapat kesempatan untuk memamerkan sekaligus memasarkan produk hasil kreativitas masyarakat.
“Teman-teman dari semua kecamatan kita kumpulkan. Setiap harinya terbagi tujuh kecamatan untuk pameran,” kata Tutik.
Menurutnya, setiap kecamatan memiliki keunggulan produk yang berbeda. Produk yang dipamerkan antara lain kerajinan rajut, jamu, olahan makanan hingga produk kreatif berbasis teknologi.
“Kita kasih satu meja dan kursi untuk pameran. Mereka memasarkan hasil produknya sesuai jadwal,” ujarnya.
Salah satu produk yang menarik perhatian berasal dari Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh. Produk yang ditampilkan tidak hanya berupa makanan, tetapi juga hasil inovasi pengolahan bahan yang dikembangkan masyarakat.
Tutik mencontohkan inovasi es krim dengan cita rasa tape, meski bahan yang digunakan bukan tape. Selain itu, terdapat keripik berbahan pelepah pisang dan berbagai produk kerajinan lainnya.
“Berbeda-beda keunggulannya. Ada yang membuat kerajinan rajut, ada yang spesialis jamu, stik tahu, kemudian ada juga yang lebih ke teknologi dan inovasi makanan,” jelasnya.
Perpustakaan Jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat
Tutik menjelaskan, pameran tersebut merupakan bagian dari upaya Disarpus mendorong perpustakaan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku.
Konsep yang dikembangkan yakni transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Melalui konsep tersebut, masyarakat diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari buku dalam kehidupan sehari-hari.
Kabupaten Lumajang memiliki 205 desa dan kelurahan yang tersebar di 21 kecamatan. Saat ini, sebanyak 67 perpustakaan desa dan kelurahan telah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Tahun ini, jumlah tersebut bertambah tujuh perpustakaan.
“Jadi teman-teman ini tidak hanya melayankan buku, tetapi juga implementasi dari buku,” katanya.
Ia mencontohkan masyarakat yang mendapatkan pengetahuan dari buku kemudian mengembangkan keterampilan membuat hantaran pengantin. Ada pula warga yang memanfaatkan limbah koran menjadi berbagai produk kerajinan.
“Limbah koran bisa dijadikan tempat telur ayam, nampan, vas bunga, piring dan berbagai kerajinan lainnya. Kertasnya digulung kemudian dirangkai menjadi keterampilan,” ungkap Tutik.
Selain kerajinan, masyarakat juga mulai mengembangkan berbagai produk UMKM seperti makanan ringan, makrame, gantungan pot dan produk kreatif lainnya.
Menurut Tutik, hasil transformasi perpustakaan tersebut diharapkan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Dari hasil itu harapannya teman-teman ini bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Dan itu sudah banyak contohnya di Kabupaten Lumajang,” tuturnya.
Dorong Literasi Keagamaan dan Karya Tulis
Sementara itu, salah satu stan dalam pameran menghadirkan koleksi buku keagamaan. Stan tersebut di kelola Plt Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Jatiroto, Mohammad Rusdi.
Rusdi mengatakan keikutsertaan Kecamatan Jatiroto dalam Festival Literasi Lumajang 2026 tidak hanya untuk memamerkan koleksi buku. Pihaknya juga ingin mendorong masyarakat menjadikan kegiatan literasi sebagai aktivitas yang menghasilkan karya dan berkelanjutan.
“Karena kita berkegiatan literasi, Festival Literasi 2026 ini temanya literasi untuk Lumajang unggul. Basisnya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial,” kata Rusdi.
Menurutnya, kegiatan literasi seharusnya menghasilkan sesuatu yang membekas bagi masyarakat. Karena itu, pihaknya menghadirkan koleksi buku keagamaan sekaligus mengagendakan kegiatan bedah buku.
“Literasi ini juga harus memiliki semacam hasil yang membekas di kegiatan ini. Sehingga kami memilih buku, kemudian juga ada kegiatan bedah buku,” ujarnya.
Rusdi berharap kegiatan tersebut dapat mendorong minat baca masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan karya tulis.
“Kegiatan ini punya keberlanjutan, terutama untuk meningkatkan minat baca masyarakat, bahkan minat literasi untuk bisa mengembangkan kemampuan karya tulis,” jelasnya.
Dalam kegiatan bedah buku tersebut, Rusdi juga akan membahas dua karya yang ditulisnya sendiri. Karya pertama berjudul Risalah-Risalah Mahabakan dan Sunam Bonang untuk Umat Harian Zaman, sedangkan karya kedua berjudul Risalah-Risalah Ma’rifat Jumatil Kubro.
Ia menyebut kedua karya tersebut berkaitan dengan kajian psikologi agama dan tasawuf.
“Ini semuanya kajian psikologi agama, ibaratnya kalau di Islam itu tasawuf. Itu penting karena kita warga Lumajang merasa terpanggil untuk mengembangkan dan mengkaji,” katanya.
Rusdi menilai literasi keagamaan juga dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat memperdalam pemahaman mengenai psikologi sosial dan psikologi agama.
“Termasuk mengembangkan dan mendalami psikologi sosial, psikologi agama. Terutama ilmu tasawuf untuk meningkatkan religiositas dan keberagamaan kita sebagai warga Lumajang,” pungkasnya.





