D-ONENEWS.COM

Galang Kekuatan Komunitas Industri Kreatif, SCN Siap Eksplor Pariwisata Surabaya

Foto ; Juliana Evawati anggota DPRD Surabaya periode 2019-2024 berikan materi potensi pariwisata di Surabaya dalam Diskusi “Dolan Surabaya Mengenal Surabaya Lebih Dekat”

Surabaya,(DOC) – Surabaya Creatif Network (SCN) memulai menggarap potensi tempat-tempat wisata di kota Surabaya.

Upaya tersebut diawali dengan menggelar Diskusi Publik Soal Pariwisata yang berjudul “Dolan Surabaya, Mengenal Surabaya Lebih Dekat”, di rumah Satu Atap Jalan Pacar, Sabtu(28/9/2019) malam.

Hadir narasumber kompeten diantaranya, mantan finalis Cak Ning Suroboyo yang kini menjabat sebagai Anggota DPRD Surabaya periode 2019-2024 Juliana Evawati, Art Program Manager British Council Viandhira Athia, dan Ketua SCN Hafshoh Mubarak.

Diskusi publik yang menghadirkan sejumlah komunitas pegiat pariwisata dan kuliner tersebut, dipandu oleh Baby Amelia aktivis dari Surabaya Heroes Toastmasters.

Dalam kesempatan tersebut, Viandhira Athia memberikan masukan soal langkah pengembangan potensi wisata di Surabaya.

Menurut dia, Taman-taman kota Surabaya sudah dikenal hingga manca negara, namun Surabaya belum punya ikon yang bisa menarik minat wisatawan untuk berkunjung di Surabaya lebih banyak lagi. Padahal sejarah kota pahlawan hanya di miliki Surabaya saja.

“Tapi ikon itu dibuat yang unik. Misalnya dengan cara mendaur ulang barang bekas menjadi souvenir. Surabaya perlu Crafting Future dan bisa juga menonjolkan gedung kunonya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua SCN Hafshoh Mubarak menginginkan kota Surabaya kedepan bisa menjadi spot sunting untuk pembuatan film layar lebar.

Ia mengatakan, Surabaya memiliki segudang sejarah dan tempat-tempat indah yang bisa di create menjadi tempat sutting film.

Hafshoh menjelaskan, selain taman-taman, kota Surabaya mempunyai kampung sejarah yang menjadi tapak tilas para pendiri bangsa ini.

Begitu juga dengan keragaman budaya dan kesenian kota Pahlawan yang akan di kemas hingga bisa menjadi tren kebudayaan sekaran.

Inilah tugas SCN untuk mengemasnya agar bisa menghasilkan income dari aktivitas kunjungan wisatawan manca negara.

“Ibaratnya kita ini micin(bumbu penyedap rasa,red). Kita akan mengubah  apa yang dimiliki Surabaya bisa menarik untuk dinikmati para wisatawan manca negara. Jujur kita berkiblat pada Korea Selatan yang bisa menghasilkan pendapatan dari keragaman budayanya,” jelas Hafshoh.

Mengenai tempat -tempat yang tengah dipersiapkan untuk menjadi spot sutting film, yakni perkampungan zaman perjuangan, yaitu diantaranya Kampung Maspati, Rumah tinggal Bung Karno, Museum Hos Cokro Aminoto, WR Soepratman dan Lawang Seketeng.

“Kita perlu menggandeng seluruh komunitas di Surabaya terutama komunitas starup untuk mewujudkan ini. Yang paling penting juga dukungan investor dan stake holder,” tambahnya.

Keterlibatan seluruh pihak untuk menjadikan Surabaya sebagai jujugan para wisatawan lokal dan maca negara juga menjadi tujuan pemerintah kota Surabaya sekarang ini, terlebih menghadapi era industri di gital 4.0.

Anggota DPRD Surabaya dari FPAN, Juliana Evawati, menyatakan, perlu kolaborasi antara stake holder dan pelaku starup untuk mengcreate potensi wisata di Surabaya.

Juliana yang akrab dipanggil Jeje menjelaskan, Starup adalah industri kreatif dari kalangan anak muda yang bisa dikembangkan dulu hingga mereka memiliki legalitas. Dengan begitu, kreatifitas para starup bisa di arahkan untuk menghidupkan wisata di Surabaya.

“Starup bisa diarahkan untuk menghidupkan potensi wisata Surabaya dengan cara legal. Tapi yang terpenting untuk menjadi ikon wisata di Surabaya yakni oleh-oleh khusus yang hanya diproduksi di Surabaya,” katanya.

Menurut Jeje, di daerah lain para wisatawan yang berkunjung bisa membawa oleh – oleh khas dari daerah yang di jujug. Sedangkan Surabaya belum memiliki oleh-oleh khas itu.

Sebenarnya, lanjut Jeje, Surabaya mempunyai banyak produk yang bisa dijadikan ikon sebagai oleh-oleh Surabaya, seperti batik semanggi, rujak cingur dan lontong balap.

“Cuma masalahnya pengrajin batik semangginya itu terbatas. Sehingga belum bisa booming menjadi ikon oleh-oleh khas Suroboyo,” tandasnya.

Jika di inventarisir, kata dia, Surabaya memiliki tempat wisata yang paling komplit dibanding daerah lainnya.

Di sisi infrastruktur yang bisa menjadi tempat wisata yaitu, trasnportasi Bus Suroboyo, Taman – taman kota, RHU Kenjeran, Wisata Heritage dan banyak lagi.

Memiliki kebudayaan yang kaya beragam dan setiap tahun digelar kolaborasi dengan negera lain. Memiliki tempat wisata kuliner serta sejarah para tokoh nasional hingga di era kerajaan.

“Surabaya bukan hanya memiliki sejarah perjuangan dan tapak tilas tokoh bangsa yang kini sudah dijadikan museum sejarah Hos Cokroaminoto, Wr Soepratman, kampung Maspati dan Lawang Seketeng, tapi Surabaya juga memiliki sejarahnya kerjaaan Pandean Sawunggaling. Ini perlu di eksplor lagi agar lebih dikenal dunia,” katanya.

Surabaya juga memiliki tanaman musiman yang bisa dipromokan untuk menjadi potensi wisata. Jeje berharap semua kalangan bisa terlibat untuk mengeksplor Surabaya agar lebih dikenal lagi.

“Tanaman asal Jepang Tabe Buya yang bisa tumbuh di Surabaya di musim – musim tertentu merupakan potensi wisata juga. Di Surabaya kan punya Cak dan Ning, seharusnya mereka juga ikut gencar mempromosikan kembang dan gugurnya Tabe Buya sebagai wisata. Ini kan gampang, tinggal menghitung kapan musim semi dan gugurnya,” pungkas anggota DPRD muda ini. (robby)

Loading...

baca juga