Kawinkan Kopi dan Labu Jadi Selai Istimewa

Tidak ada komentar 29 views

Surabaya, (DOC) – Cita rasa unik dan baru tercipta dalam selai kombinasi kopi dan buah labu. Selain nikmat, selai ini ramah bagi tubuh dan mengandung vitamin yang bermanfaat.

Selai ini menjadi buah karya sekelompok mahasiswi Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Unika Widya Mandala, Surabaya. Mereka adalah Jane Nathania, Carolina Hendrianto, Alvina Handoyo dan Lovina Aprilia Sugianto.

Selai Kopi Labu menjadi inovasi tugas akhir kelompok mahasiswa ini untuk menuntaskan jenjang sarjana mereka. Namun, selebihnya inovasi ini menghasilkan produk makanan sehat bagi masyarakat.

Ide ini berawal dari hobi minum kopi di antara keempat mahasiswi asal Surabaya ini. Melihat produktivitas bahan baku kopi di Indonesia yang melimpah, ditambah rasa penasaran mengaplikasikan kopi dalam sebuah selai. Keempat mahasiswi ini tergelitik untuk membuat hal baru.

Sama halnya dengan buah labu, mereka melihat ragam olahan labu terbatas. Seringkali labu hanya dijadikan bahan masakan sayuran hingga membosankan. Padahal, labu memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh.

“Kami hobi banget ngopi. Masyarakat Indonesia pun tidak lepas dari budaya mengkonsumsi kopi dalam keseharian. Lalu kenapa tidak bikin olahan kopi yang baru dan lain dari yang lain,” terang Carolina saat ditemui Kumparan di laboratorium pangan kampus.

Mereka pun mulai bergerak mengawinkan kopi dan labu menjadi kombinasi dalam sebuah selai. Percobaan yang mereka lakukan pun tidak singkat. Trial dan error mereka hadapi saat mengukur formula yang paling pas.

“Penelitian ini kami lakukan selama setahun. Karena kami juga harus menguji secara laboratorium kandungan selai yang dibuat,” ujar Carolina.

Dia dan ketiga kawannya mengamini, bahwa proses uji laboratorium menjadi langkah paling lama. Di samping itu, takaran antara kopi dan labu harus benar-benar seimbang. Sehingga cita rasanya tidak terlewat getir khas kopi ataupun terlalu manis dari labu.

Masing-masing mahasiswi ini menggunakan jenis labu yang bervariasi, Jane menggunakan labu siam; Carolina menggunakan labu air; lalu Alvina menggunakan labu kuning; serta Lovina menggunakan labu kabocha.

Cara pengolahannya ternyata relatif mudah. Bahkan, bisa membuat selai sendiri dalam tiga puluh menit. Pembuatannya juga bisa dilakukan dengan alat sederhana yang rumahan.

Buah labu yang sudah terpilih, selanjutnya dicuci bersih dengan air mengalir kemudian dipotong menjadi ukuran yang kecil sehingga memudahkan proses pengukusan. Potongan labu tersebut lantas dikukus selama kurang lebih 15 menit agar menjadi lunak.

Langkah berikutnya labu kukus dihaluskan dan dicampur dengan bahan-bahan lainnya termasuk kopi. Kemudian dilakukan pemasakan selama 10 menit hingga didapatkan selai yang kental.

Terakhir, selai kopi dimasukkan ke dalam stoples kemasan yang sebelumnya sudah dicuci bersih dan direbus dalam air mendidih. 

“Semua labu yang kami gunakan tumbuh lokal di Indonesia sedangkan untuk kopi yang kami gunakan adalah kopi lokal jenis robusta dalam bentuk bubuk instan maupun kopi bubuk biasa,” terang Jane.

Menggabungkan kopi dan labu menjadi sebuah selai dibutuhkan teknik tersendiri, sehingga didapatkan wujud selai yang diinginkan. Berdasarkan bahan baku labu yang dipilih maupun bahan campuran yang digunakan, bahkan rasa yang dihasilkan juga akan berbeda-beda.

“Karakteristik masing-masing labu berbeda, baik dari segi ketinggian kadar air maupun keasaman. Untuk rasa yang dihasilkan dari keempat selai ada manis, segar, creamy dan ada yang kuat rasa kopinya. Setiap panelis yang mencoba semuanya punya kesukaan tersendiri,” tutur Lovina.

Selai Kopi Labu tidak hanya mengandung kafein. Nilai gizi dari selai juga meningkat, karena labu kaya akan vitamin A, karbohidrat dan lainnya. “Vitaminnya cukup banyak. Kalau kafein tidak terlalu banyak hanya meninggalkan rasa kopinya,” tandasnya.

Produk selai ini diberikan nama Konvyt. Kata ini berasal dari bahasa Ethiopia yang berarti kopi. Ada empat varian yang mereka hasilkan. Selain unik juga relatif sehat karena menggunakan bahan alami, kaya serat, mengandung vitamin serta tidak mengandung bahan kimia pengawet.

“Selai dapat bertahan selama dua bulan jika disimpan di lemari pendingin dan  sekitar seminggu  di suhu ruangan,” imbuh Carolina.

Produk Konvyt memiliki empat varian, yakni bold, fresh, creamy dan sweet. Keempatnya memiliki karakteristik yang berbeda mulai pahit tebal, agak manis, manis, dan segar. 

“Kami ingin agar Konvyt suatu saat dapat diproduksi massal agar bisa dinikmati masyarakat luas, tapi masih harus diteliti lebih lanjut termasuk mengurus paten,” ungkap Carolina. (Pbr)