Kecemasan Mahasiswa Meningkat, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Kecemasan Mahasiswa Meningkat, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Surabaya,(DOC) – Fenomena kecemasan yang semakin sering di alami mahasiswa dan generasi Z belakangan ini menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga gaya hidup modern di nilai berkontribusi terhadap munculnya gangguan psikologis yang, jika tidak di pahami dan di kelola dengan baik, berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih berat.

Bacaan Lainnya

Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Diah Sofiah, menjelaskan bahwa kecemasan memiliki karakteristik berbeda dengan rasa takut. Rasa takut biasanya memiliki objek yang jelas dan nyata, sedangkan kecemasan muncul dari ketidakpastian serta ancaman yang bersifat abstrak.

“Kecemasan sebenarnya adalah bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Justru karena tidak jelas inilah, respons emosional yang muncul sering kali lebih berat secara psikologis,” ujar Dr. Diah, Minggu (25/1).

Dalam kajian psikologi, kecemasan di bedakan menjadi dua jenis utama. Pertama, state anxiety, yakni kecemasan yang bersifat sementara dan muncul pada situasi tertentu, seperti menghadapi ujian atau presentasi. Kedua, trait anxiety, yaitu kecenderungan kepribadian di mana seseorang memandang banyak situasi sebagai ancaman, meskipun sebenarnya relatif aman.

Dr. Diah menambahkan bahwa kecemasan dapat di kenali melalui tiga aspek utama. Dari sisi kognitif, individu di penuhi pikiran negatif dan kekhawatiran berlebihan. Secara fisik, tubuh menunjukkan respons seperti jantung berdebar, napas pendek, hingga ketegangan otot. Sementara dari aspek perilaku, kecemasan sering memunculkan kecenderungan menghindari situasi yang di anggap tidak nyaman.

Fungsi Adaptif

Meski sering di persepsikan negatif, kecemasan sejatinya memiliki fungsi adaptif. Pada tingkat moderat, kecemasan dapat meningkatkan kewaspadaan, fokus, dan kesiapan seseorang dalam menghadapi tantangan. Namun ketika intensitasnya berlebihan, kecemasan justru menurunkan performa dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dr. Diah juga menyoroti budaya nongkrong dan ngopi yang marak di kalangan mahasiswa. Menurutnya, kebiasaan tersebut kerap menjadi bentuk pelarian sementara dari tekanan akademik.

Baca Juga:  Teruskan Program Risma, Alumni Teknik Sipil ITATS 4 Dekade Dukung Armuji

“Bukan semata soal kafein. Suasana kafe memberi rasa aman semu dan distraksi dari tugas atau masalah yang di hadapi,” jelasnya.

Sayangnya, pola menghindar seperti ini berpotensi memperkuat kecemasan karena akar persoalan tidak benar-benar di selesaikan. Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi kafein berlebihan perlu di waspadai. Dalam DSM-5, kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal di akui dapat memengaruhi kesehatan mental, termasuk kualitas tidur dan tingkat kecemasan.

Melalui pemahaman yang lebih tepat, Dr. Diah berharap mahasiswa mampu mengenali kecemasan secara sehat, memahami perilaku yang kurang adaptif, serta mengembangkan strategi koping yang efektif. Dengan demikian, mahasiswa dapat menghadapi tuntutan akademik dan dinamika kehidupan dengan lebih seimbang dan berdaya. (r6)

Pos terkait