Kemendikdasmen Perkuat Pelatihan RBD Guru SD–SMP di Lembang

Kemendikdasmen Perkuat Pelatihan RBD Guru SD–SMP di Lembang
Kemendikdasmen Perkuat Pelatihan RBD Guru SD–SMP di Lembang

Lembang,(DOC) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus memacu pelestarian bahasa daerah dengan sejumlah inisiatif terpadu. Pada Jumat (20/6), Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, meninjau Pelatihan Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) jenjang SD dan SMP se-Jawa Barat yang di gelar di Lembang.

Program ini di rancang untuk meningkatkan kompetensi hingga ketrampilan praktis para guru dalam menyampaikan materi berbahasa daerah sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Bacaan Lainnya

“Jangan mengaku orang Sunda kalau tidak bisa berbahasa Sunda. Bahasa daerah adalah kekuatan yang harus kita rawat bersama,” ungkap Hafidz dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa guru tidak hanya bertugas mengenalkan kosakata dan tatabahasa. Mereka juga harys menciptakan ruang bagi siswa untuk berekspresi melalui karya, mulai dari cerita pendek, nyanyian tradisional, hingga kreasi digital. Dengan demikian, bahasa bukan sekadar pelajaran, melainkan sarana pengembangan karakter dan kreativitas.

Sebagai langkah penguatan jangka panjang, Badan Bahasa menggandeng perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah Kuningan resmi membuka Program Studi Bahasa Sunda, yang di harapkan melahirkan guru-guru terlatih dan peneliti bahasa daerah. Ke depan, kolaborasi serupa akan di perluas ke provinsi lain dengan ragam bahasa berbeda.

Pelatihan RBD di ikuti 108 guru secara luring dan lebih dari 400 peserta daring dari seluruh Jawa Barat. Para peserta memperoleh modul pengajaran interaktif, metode storytelling tradisional, serta platform daring untuk menyiarkan materi ke daerah terpencil.

Herawati, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, menyampaikan harapan agar semua guru aktif mendiseminasikan pengetahuan ini kepada rekan sejawat dan murid di sekolah mereka.

“Semoga Festival Tunas Bahasa Ibu mendatang bukan hanya ajang lomba, tetapi momentum kebangkitan kecintaan generasi muda terhadap bahasa nenek moyang,” tutup Herawati. (r6)

Pos terkait