Khofifah Dukung ‘Vocational Epicentre’ 2026: Vokasi Adalah Pemutus Mata Rantai Kemiskinan

Khofifah Dukung 'Vocational Epicentre' 2026: Vokasi Adalah Pemutus Mata Rantai Kemiskinan
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dukung penuh pelaksanaan Vocational Epicentre 2026. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Vocational Epicentre 2026 yang diinisiasi oleh Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ajang internasional ini dibidik menjadi momentum emas untuk melahirkan SDM terampil sekaligus instrumen strategis memutus rantai kemiskinan di Jawa Timur.

Perhelatan akbar yang dijadwalkan berlangsung pada 2–4 Agustus 2026 tersebut akan mempertemukan sedikitnya 1.735 peserta dari dalam dan luar negeri. Acara ini dirancang sebagai panggung kolaborasi antara sektor akademik, dunia usaha, dunia industri, dan pemerintah.

Bacaan Lainnya

“InsyaAllah kita siap untuk mendukung penuh penyelenggaraan Vocational Epicentre yang di dalamnya ada OLIVIA XI 2026,” ujar Khofifah saat ditemui di Surabaya, Rabu (8/7/2026).

Selain Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI, rangkaian mega-event bertema “Satu Titik, Sejuta Inovasi, Level Up The Nation” ini juga mengintegrasikan sejumlah agenda krusial. Di antaranya The 3rd International Conference on Applied Science and Vocational Innovation (ICASVI) dan Vokasi Expo 2026, serta Kongres X Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI).

Khofifah menjelaskan, perkembangan pendidikan vokasi di Jawa Timur memegang peran kunci sebagai jembatan yang menghubungkan kurikulum dengan kebutuhan riil pasar kerja global. Sinergi antara Fakultas Vokasi Unesa dan Pemprov Jatim pun didorong untuk terus diperkuat di sektor hulu penyerapan tenaga kerja.

Sejak periode pertama kepemimpinannya di Jatim, Khofifah menegaskan bahwa sektor pendidikan terapan selalu ditempatkan pada kluster prioritas. Penguatan keterampilan dinilai sebagai instrumen paling efektif dalam menekan angka pengangguran terbuka, baik di perkotaan maupun perdesaan.

“Kami yakin bahwa pendidikan adalah kunci penurunan bahkan pemutus kemiskinan. Oleh sebab itu, peningkatan SDM adalah kewajiban dan kita pastikan bahwa tidak ada masyarakat Jawa Timur yang tertinggal,” tegas Khofifah.

Ia optimistis, kesiapan pasokan tenaga kerja yang unggul serta masifnya hilirisasi inovasi terapan dari ranah kampus akan menjadi pilar utama penyokong stabilitas ekonomi bangsa di masa depan.

Pos terkait