Proyek Sekolah dan Rumah Subsidi Selamatkan Industri Konstruksi Jatim di Semester I 2026

Proyek Sekolah dan Rumah Subsidi Selamatkan Industri Konstruksi Jatim di Semester I 2026
Ilustrasi pembagunan di Jawa Timur. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Sempat lesu akibat keterlambatan pencairan anggaran di awal tahun, industri konstruksi Jawa Timur akhirnya bangkit pada Semester I 2026. Menariknya, penopang utama kebangkitan ini bukan lagi proyek infrastruktur jalan atau jembatan, melainkan masifnya pembangunan fasilitas pendidikan dan perumahan rakyat.

Ketua Umum Asosiasi Proyek Konstruksi Indonesia (APROKI), Aslakhul Umam, mengungkapkan bahwa sektor pembangunan gedung mendominasi hingga 58–62 persen dari total nilai proyek konstruksi di Jatim yang mencapai Rp18,7 triliun. Artinya, sekitar Rp10,9 triliun hingga Rp11,6 triliun tersedot untuk proyek bangunan.

Bacaan Lainnya

“Dominasi sektor bangunan menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi hanya berfokus pada infrastruktur jalan dan jembatan, tetapi mulai diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan publik, pendidikan, perumahan, hingga fasilitas ekonomi,” ujar Umam, Rabu (8/7/2026).

Kebangkitan sektor ini didorong oleh percepatan sejumlah program strategis nasional yang menyasar langsung kebutuhan dasar masyarakat. Dari total 1.248 paket pekerjaan konstruksi di Jatim, sebanyak 789 paket merupakan proyek pembangunan gedung.

Berikut adalah rincian proyek raksasa yang menjadi motor penggerak utama, antara lain pembangunan sekolah rakyat tahap II menelan anggaran Rp1,165 triliun untuk mendirikan lima sekolah terpadu berfasilitas asrama dan sarana olahraga di Surabaya, Gresik, Tuban, Jombang, dan Sampang.

Lalu, pembangunan rehabilitasi gedung sekolah senilai Rp145 miliar dialokasikan untuk merenovasi sekolah di 32 kabupaten/kota dengan standar ramah lingkungan dan tahan gempa. Kemudian, Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang melonjak drastis dari 4.165 unit pada tahun lalu menjadi 33.000 unit di tahun 2026, dengan total anggaran Rp660 miliar.

Adapula pembangunan 12.500 unit rumah subsidi di kawasan Surabaya Raya, Kediri, dan Malang dengan nilai investasi Rp1,2 triliun.

Selain itu, sisa anggaran sektor ini mengalir ke berbagai proyek fasilitas publik lain, seperti pemugaran Gedung Negara Grahadi Surabaya, pembangunan pusat data, gedung perkantoran, hingga penyelesaian Stadion H Agus Salim di Nganjuk.

Baca Juga:  Eks Kadindik Jatim Didakwa Karena Bersekutu Rugikan Negara Rp 8,2 Miliar

Meski terkonsentrasi 47 persen di wilayah utara Jatim (Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Lamongan), dampak ekonomi dari proyek-proyek ini mulai merata ke wilayah tengah dan selatan.

Setelah sempat terkontraksi di Triwulan I akibat birokrasi anggaran, sektor konstruksi Jatim melesat dengan perkiraan pertumbuhan 7,2 persen di Triwulan II seiring cairnya dana pemerintah. Umam optimistis bahwa pergeseran tren konstruksi ke arah fasilitas publik ini akan menjadi investasi jangka panjang yang mendongkrak kualitas SDM sekaligus pertumbuhan ekonomi daerah.

Pos terkait