
Surabaya, (DOC) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, resmi meluncurkan Asrama Bibit Unggul pada Senin (26/8/2024). Asrama ini berlokasi di Jl. Villa Kalijudan Indah XV/Kav. 2-4, Surabaya. Asrama ini di rancang khusus untuk mencetak generasi emas dari keluarga kurang mampu.
Menariknya, konsep Asrama Bibit Unggul sebenarnya telah di inisiasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sejak masa Wali Kota Soenarto Soemoprawiro. Salah satu alumni angkatan pertama program ini adalah Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati. Ia, yang akrab di sapa Febri, berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana program ini mengubah hidupnya.
“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah kota. Jika dulu tidak ada program Bibit Unggul, mungkin saya tidak akan mencapai posisi saya sekarang,” ungkap Febri penuh syukur pada Kamis (29/8/2024).
Febri menceritakan masa kecilnya yang penuh tantangan. Ayahnya bekerja sebagai sopir taksi dan kesulitan membiayai pendidikan. Keberuntungan datang ketika Pemkot Surabaya memperkenalkan program beasiswa Bibit Unggul bagi siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu.
“Bapak saya dulu sopir taksi. Saat itu, bapak sudah tidak mampu membiayai sekolah, dan tiba-tiba pemerintah kota membuat program Asrama Bibit Unggul,” kenang Febri.
Karena prestasi akademik yang baik, guru-guru Febri mendorongnya untuk mengikuti seleksi program beasiswa Bibit Unggul.
“Alhamdulillah, akhirnya saya lolos,” ujar wanita kelahiran Surabaya, 11 Februari 1976 ini.
Tidak Pernah Menyangka Bisa Kuliah
Program Bibit Unggul memilih siswa-siswi dari keluarga tidak mampu yang memiliki nilai rapor tinggi. Febri berhasil lolos seleksi dan melanjutkan pendidikan di Universitas Airlangga (Unair).
“Saya tidak pernah menyangka bisa kuliah. Kalau bukan karena program ini, saya tidak akan sampai kuliah,” katanya.
Selama kuliah, Febri tinggal di Asrama Bibit Unggul selama sekitar tiga tahun hingga lulus. Setelah itu, ia mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan berhasil lolos.
“Mulai dari semester awal kuliah, saya sudah tinggal di Asrama Bibit Unggul, sekitar tiga tahun sampai lulus. Setelah lulus, ada rekrutmen PNS dan saya berhasil lolos,” jelasnya.
Febri merupakan alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unair. Keputusannya memilih perguruan tinggi negeri di dorong oleh keinginan mempertahankan beasiswa yang di berikan Pemkot Surabaya.
“Saya memilih perguruan tinggi dengan pertimbangan tidak terlalu sulit agar bisa mempertahankan beasiswa ini,” katanya.
Febri mengakui bahwa program Bibit Unggul menjadi kunci suksesnya. Tanpa program ini, kemungkinan besar ia tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Kalau saya tidak masuk negeri, beasiswa saya bisa terputus. Alhamdulillah, Allah memberikan izin dan pemerintah kota sangat mendukung,” tuturnya.
Jumlah Masih Terus Bertambah
Saat peresmian Asrama Bibit Unggul, Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya, Anna Fajrihatin, menjelaskan bahwa saat ini ada 138 anak yang mengikuti program pendidikan “1 Keluarga 1 Sarjana” di asrama tersebut. Jumlah ini masih akan terus bertambah.
“Kami berharap asrama ini dapat mencetak generasi muda yang luar biasa,” ujar Anna.
Pemkot Surabaya menyediakan berbagai fasilitas di Asrama Bibit Unggul, termasuk ruang pembelajaran, ruang kreasi, ruang makan, serta lapangan futsal dan basket.
“Anak-anak di asrama ini juga di beri kesempatan mengembangkan bakat, mulai dari musik, melukis, hingga kegiatan kreatif lainnya,” tambah Anna.
Anna menegaskan bahwa Asrama Bibit Unggul berfungsi sebagai pusat kegiatan bagi anak-anak. Tempat ini memberikan pembinaan baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.
“Asrama ini juga menjadi tempat untuk membentuk jiwa dan empati anak-anak, untuk mewujudkan generasi yang hebat,” pungkasnya. (r6)





