Pemkot Surabaya Dampingi Atlet Remaja Korban Pelecehan Oknum Pelatih

Pemkot Surabaya Dampingi Atlet Remaja Korban Pelecehan Oknum Pelatih
Kepala DP3APPKB, Ida Widayati. (Foto: Dinkominfo)

Surabaya, (DOC)Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat memberikan pendampingan psikologis dan hukum terhadap seorang atlet remaja putri berinisial DS (15 tahun) yang diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh pelatih klubnya sendiri. Kasus ini kini tengah ditangani oleh pihak Polrestabes Surabaya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, Ida Widayati, mengonfirmasi bahwa pihaknya langsung turun tangan memberikan pendampingan sejak korban menjalani proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di kepolisian.

Bacaan Lainnya

“Kemarin waktu BAP, teman-teman Polres sudah menginfokan ke kita. Jadi, kami langsung melakukan pendampingan saat itu juga,” ujar Ida, Jumat (12/6/2026).

Berdasarkan data yang dihimpun, korban yang saat ini duduk di bangku kelas 9 SMP telah bergabung dengan klub olahraga tersebut sejak tahun 2024. Korban awalnya mengagumi pelaku karena di bawah arahannya, korban mulai berhasil menorehkan prestasi dalam kejuaraan olahraga peluru.

Namun, kedekatan dan rasa kagum tersebut dimanfaatkan oleh pelaku. Sejak Februari 2026, pelaku mulai menerapkan modus hukuman atau sanksi aneh apabila korban melakukan kesalahan saat latihan, yakni dengan cara digelitiki.

Aksi pelecehan semakin berlanjut saat pelaku mengantar korban pulang menggunakan mobil pribadi. Di dalam mobil, pelaku meminta korban pindah ke kursi belakang hingga terjadi tindakan pelecehan fisik (raba-raba).

Tidak sampai di situ, belakangan pelaku juga mulai meminta korban untuk mengirimkan foto-foto yang tidak wajar. Karena merasa risih dan permintaannya sering ditolak, keduanya sempat terlibat pertengkaran hingga putus komunikasi.

“Korban yang memendam kekecewaan dan rasa bersalah akhirnya berani mengadukan peristiwa tersebut kepada orang tuanya pada Senin, 8 Juni 2026. Pihak keluarga kemudian langsung melaporkan kasus ini ke Polres pada Selasa malam,” terang Ida.

Ida Widayati menjelaskan bahwa kondisi psikologis korban saat ini didera rasa menyesal dan kecewa yang mendalam karena sosok pelatih yang dikaguminya ternyata memiliki perangai buruk. Kendati demikian, korban dipastikan tetap melanjutkan sekolahnya.

Baca Juga:  Harga Kebutuhan Pokok Stabil Menjelang Nataru, Wamendagri Beri Apresiasi Pemkot Surabaya

Selain memberikan penguatan mental kepada korban, DP3APPKB Kota Surabaya juga memberikan edukasi khusus kepada pihak orang tua. Dari hasil asesmen, ditemukan adanya celah komunikasi di dalam keluarga yang membuat korban sempat mencari perhatian dari figur luar.

“Kami mengedukasi anak ini bahwa apa yang terjadi itu keliru, dan kami juga mengedukasi orang tuanya untuk mempererat komunikasi dengan anak. Dalam hal ini, peran ayah sangat penting, karena kebetulan ayahnya selama ini sibuk bekerja sehingga kurang dekat dengan anak,” jelas Ida.

Mengenai perkembangan kasus hukum, Pemkot Surabaya terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Pelaku diketahui sudah menjalani proses BAP, dan korban juga telah melakukan visum sebagai pemenuhan alat bukti.

“Proses hukumnya sudah berjalan di Polres dan tentu tidak boleh terburu-buru, pembuktiannya harus jelas. Hasil visum juga sedang ditunggu. Kami akan terus memantau dan mengonfirmasi kembali perkembangannya dalam waktu dekat,” pungkas Ida.

Pos terkait