Kronologi Diskusi di UGM yang Berujung Ricuh

Kronologi Diskusi di UGM yang Berujung Ricuh

Jakarta,(DOC) – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membeberkan kronologi diskusi antara sejumlah pejabat pemerintah dan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berujung ricuh beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Menurut Sudaryono, pemerintah sejak awal merancang kegiatan tersebut sebagai forum dialog untuk bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Ia menjelaskan, pemerintah sudah beberapa kali menggelar forum serupa bersama mahasiswa maupun kelompok masyarakat lainnya. Dalam kegiatan itu, Sudaryono hadir bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid serta Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko.

“Tujuannya dua, simpel saja. Kita memberi tahu dan mencari tahu. Kita memberi tahu apa yang pemerintah lakukan, dan kita mencari tahu aspirasi, pertanyaan, komplain, kesedihan, kekecewaan, maupun kemarahan masyarakat,” kata Sudaryono, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (17/6/2026).

Dialog Awalnya Berjalan Lancar

Sudaryono mengatakan rombongan pemerintah datang ke UGM untuk mendengarkan sekaligus menjelaskan berbagai program yang tengah dijalankan pemerintah kepada sivitas akademika dan mahasiswa.

Menurut dia, acara berlangsung normal selama sekitar 30 hingga 40 menit. Saat itu, dirinya bersama Nusron Wahid dan Budiman Sudjatmiko telah menyampaikan paparan awal sebelum membuka sesi diskusi.

“Kami sampaikan juga, tanya apa saja. Bahkan kadang kami bilang, adili kami di sini. Secara demokratis kita adu argumen. Tanya, kami jawab. Kalau kurang puas, tanya lagi,” ujarnya.

Sejumlah Peserta Naik ke Panggung

Namun situasi berubah ketika sekelompok peserta memasuki area panggung sambil berteriak saat acara berlangsung.

Sudaryono mengaku tidak terlalu terkejut. Menurutnya, kejadian serupa juga pernah muncul dalam sejumlah forum diskusi lain. Biasanya, panitia tetap memberikan mikrofon kepada peserta yang melakukan interupsi agar dialog tetap berjalan.

“Orang masuk panggung teriak-teriak, enggak ada masalah, kita kasih mikrofon. Kamu mau apa? Biasanya kemudian menjadi diskusi,” katanya.

Baca Juga:  Kerusuhan Demo May Day Yogyakarta, 12 Mahasiswa Jadi Tersangka

Meski demikian, Sudaryono menilai situasi di UGM berbeda. Ia mengaku tidak menerima pertanyaan maupun aspirasi secara langsung dari kelompok tersebut. Sebaliknya, kelompok itu justru mengajak peserta lain naik ke atas panggung.

“Yang kami dapat bukan pertanyaan, bukan aspirasi, tetapi ada keinginan agar diskusi ini tidak terjadi,” ujarnya.

Diskusi Berlanjut di Luar Kampus

Sudaryono mengatakan pemerintah tetap berusaha mempertahankan dialog. Menurutnya, pemerintah siap menerima kritik maupun kemarahan mahasiswa selama disampaikan melalui forum diskusi.

“Kami ingin tahu sebenarnya yang membuat marah itu apa. Kalau tidak disampaikan, kami juga tidak mengerti apa yang menjadi persoalannya,” katanya.

Situasi kemudian memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan upaya pemukulan. Karena alasan keamanan, tim pengamanan menyarankan Sudaryono dan Nusron meninggalkan lokasi.

Ia membantah adanya aksi kejar-kejaran saat dirinya keluar dari area acara.

“Kami keluar, masuk mobil, lalu menunggu di sana. Setelah itu ada yang mencari-cari dan meminta diskusi. Akhirnya kami keluar lagi dari mobil,” ujarnya.

Menurut Sudaryono, dialog akhirnya berlanjut secara informal di luar kampus. Para peserta dan perwakilan pemerintah duduk bersama di atas aspal untuk melanjutkan pembahasan.

Dalam forum tersebut, mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kemiskinan, program food estate, hingga isu Pesta Babi di Papua. Perwakilan pemerintah kemudian menjawab seluruh pertanyaan secara langsung.

Kritik Mahasiswa Dinilai Bentuk Kepedulian

Sudaryono mengaku menyayangkan diskusi formal di dalam ruangan tidak berlangsung hingga selesai. Menurutnya, forum resmi lebih ideal karena seluruh pertanyaan dan jawaban dapat terdokumentasi sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik.

Meski demikian, ia tidak menyesali peristiwa yang terjadi di UGM. Sebaliknya, ia menilai kejadian tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan mahasiswa.

“Saya tidak marah dan tidak menyesal dengan kejadian yang ada di UGM. Saya merasa ini menjadi momentum bagaimana mahasiswa yang pintar-pintar ini bisa terkanalisasi dalam sebuah gerakan yang baik,” ujarnya.

Sudaryono juga tetap optimistis terhadap peran mahasiswa dalam mengawal berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, kritik dan kegelisahan yang mereka sampaikan menunjukkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat.

Baca Juga:  Gelombang Tinggi Rusak Fasilitas Wisata Pantai Sundak Yogyakarta

“Kegalauan mereka, kegundahan mereka, kemarahan mereka itu adalah sikap yang baik karena mereka peduli pada bangsa ini. Tugas pemerintah adalah menjawab kepedulian itu dengan penjelasan, kinerja, dan solusi,” pungkasnya. (rd)

Pos terkait