BPOM dan Ubaya Bersinergi, Percepat Hilirisasi Inovasi Obat dan Pangan

BPOM dan Ubaya Bersinergi, Percepat Hilirisasi Inovasi Obat dan Pangan
Surabaya, (DOC) – Untuk menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri dan masyarakat, Universitas Surabaya (Ubaya) menjalin kerja sama strategis dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).

Sinergi ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dibarengi dengan pelaksanaan kuliah tamu bagi mahasiswa pada Rabu, (17/6/2026).

Bacaan Lainnya

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor Ubaya, Dr Benny Lianto, bersama Kepala BPOM RI, Prof dr Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., di Kampus Ubaya Tenggilis, Surabaya.

Benny Lianto menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan penelitian, tetapi juga memastikan hasil riset dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, berbagai inovasi yang lahir dari kampus perlu diarahkan menuju hilirisasi sehingga mampu berkembang menjadi produk yang digunakan industri dan hadir di tengah masyarakat.

“Riset tidak boleh berhenti pada laporan penelitian atau publikasi ilmiah. Hasil penelitian harus mampu dihilirisasikan menjadi produk yang bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Benny.

Ia menilai kerja sama dengan BPOM RI memiliki peran penting dalam mendukung proses tersebut, terutama dalam bidang pengembangan obat dan makanan yang aman, bermutu, serta memenuhi regulasi.

Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang sebelumnya telah terjalin antara Pusat Unggulan Iptek Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (PUI Pasdeg) Ubaya dengan Balai Besar POM di Surabaya.

Selama ini, kedua institusi telah melaksanakan berbagai kegiatan bersama, mulai dari studi ekskursi, kerja praktik mahasiswa, kunjungan akademik, hingga kuliah tamu. MoU yang baru ditandatangani menjadi landasan penguatan kerja sama selama lima tahun ke depan dengan melibatkan berbagai fakultas dan unit di lingkungan Ubaya.

Selain penandatanganan kerja sama, kegiatan juga diisi kuliah tamu yang diikuti ratusan mahasiswa Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Teknobiologi.

Pada kesempatan tersebut, Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar menyampaikan materi mengenai peran BPOM dalam mendukung hilirisasi inovasi produk pangan, suplemen kesehatan, kosmetik, obat bahan alam, hingga produk farmasi agar dapat dipasarkan secara aman dan bermanfaat bagi masyarakat.

Baca Juga:  Surabaya Inggris Teken MoU, 10 Sekolah Jadi Motor Pengurangan Sampah Plastik Global

Taruna menjelaskan bahwa hilirisasi menjadi kebutuhan penting di tengah tantangan global, terutama untuk memperkuat kemandirian bangsa di sektor kesehatan.

Ia mencontohkan, saat ini produksi bahan baku obat dalam negeri masih relatif terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terhadap obat terus meningkat.

“Hilirisasi menjadi semakin penting karena Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar dan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah,” katanya.

Meski demikian, proses membawa hasil penelitian ke pasar tidaklah mudah. Dibutuhkan dukungan regulasi, riset yang kuat, serta kolaborasi lintas sektor agar inovasi dapat berkembang dan diterima masyarakat.

Karena itu, BPOM mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah atau yang dikenal dengan konsep Academia, Business, Government (ABG).

Menurut Taruna, perguruan tinggi berperan menghasilkan riset dan inovasi, industri bertugas mengembangkan serta mengkomersialisasikan hasil penelitian, sementara pemerintah hadir sebagai regulator yang memastikan produk yang dihasilkan aman, bermutu, dan sesuai ketentuan.

Melalui kerja sama ini, Ubaya dan BPOM berharap semakin banyak hasil riset kampus yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu berkembang menjadi produk inovatif yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus mendukung kemandirian industri nasional.

Pos terkait