D-ONENEWS.COM

Kuasa Hukum Pimpinan PT GBP, Pertanyakan Legal Standing Pelapor Kasus Kliennya

Foto : Kuasa Hukum Henry J Gunawan, Ahmad Riyadh UB dan Lilik Djaliyah

Surabaya,(DOC) – Pemilik PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Henry J Gunawan menuding Kejaksaan Negeri(Kejari) Surabaya telah melakukan konspirasi dibalik kasus yang tengah menjeratnya, hingga penahanan atas dirinya beberapa waktu.
Melalui kuasa hukumnya, Ahmad Riyadh UB dan Lilik Djaliyah, disebutkan, bahwa klien-nya  tidak mengetahui soal riwayat jual beli tanah seluas 1.934 meter persegi di Claket Malang yang dibeli oleh PT Gala Bumi Perkasa (GBP) pada tahun 2006 lalu.
Menurut Lilik Djaliyah, hal inilah yang dianggap konspirasi bagi Henry J. Gunawan.  Bahkan, lanjut dia, penahanan sekaligus penetapan tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang menjerat klien-nya, juga dituding upaya kriminalisasi.
“Klien kami (Henry) diduga keras telah dikriminalisasi,” ujar Lilik kepada wartawan, Selasa (15/8/2017) kemarin.
Terkait kronologis munculnya kasus yang menjerat klien-nya itu, juga dijelaskan oleh kuasa hukum lainnya, Ahmad Riyadh. Menurut dia, kasus ini berawal dari jual beli lahan yang terjadi pada tahun 2006 antara PT GBP yang saat itu direkturnya dijabat oleh Raja Sirait dengan Anggraeni, ahli waris dari Sutanto. Lahan ini dibeli dengan harga Rp 6 miliar.
Setelah proses itu, kemudian status tanah tersebut mengalami pengalihan kuasa ke pihak Hermanto yang tafsir harganya dengan nilai sebesar Rp 4,5 miliar.
“Namun hingga saat ini tidak pernah ada pembayaran sama sekali. Apakah bisa Hermanto menunjukkan bukti pembayaran berupa kwitansi atau yang lainnya. Tapi kami yakin tidak bakal bisa,” ujar Riyadh.
Ditahun 2010 lalu, sertifikat tanah itu di balik nama dari ahli waris ke PT GBP sebagai pemilik lahan. Saat itu, direktur PT GBP dijabat oleh Tee Teguh Kinarto.
Kemudian pada tahun 2013, PT GBP berubah kepemimpinan ke Henry J Gunawan. Sertifikat asset lahan tersebut, disimpan di brankas PT GBP. Ditahun 2016, tanah bersertifikat atas nama PT GBP tersebut dijual oleh Henry ke pihak lain seharga Rp 10 miliar.
“Jual beli tersebut terjadi karena Henry mengira bahwa lahan tersebut merupakan aset milik PT GBP. Karena nama maupun keberadaannya dalam kekuasaan PT GBP dan saat serah terima pejabat direktur sebelumnya. Bahkan tidak pernah ada informasi dari para direksi lain soal status tanah dan sertifikat tersebut,” tandasnya.
Usai asset tanah dan bangunan milik PT GBP itu terjual, lanjut Riyadh, tiba-tiba notaris Caroline C Kalampung mempersoalkannya dengan melapor ke Polrestabes Surabaya.
Dengan kejadian ini, dirinya mempertanyakan legal standing notaris Caroline sebagai pelapor yang dinilai tak memilikinya.
“Sederhana saja, apabila benar soal adanya proses pengalihan kuasa yang dilakukan didepan notaris Caroline, mengapa sertifikat tersebut berada dalam kekuasaan PT GBP selama bertahun-tahun. Lalu bagaiamana bisa seorang notaris memberikan sertifikat kepada pihak yang dianggap tidak bukan sebagai pemiliknya. Tidak salah dong apabila direktur PT GBP yang baru (Henry,red) mengira bahwa tanah tersebut aset milik PT GBP, terlebih sertifikat tersebut juga atas nama PT GBP. Kapasitas notaris Caroline sebagai pelapor kami pertanyakan legal standingnya. Kerugian apa yang diderita oleh pelapor dalam hal ini?” tanya Riyadh.
Kasus ini juga dianggap aneh, karena selain bergulir di Surabaya, sengeketa lahan tersebut, ternyata juga dilaporkan ke Mabes Polri oleh Hermanto yang mengaku pemegang sertifikat lahan. Atas laporan Hermanto, Mabes Polri kini juga menetapkan kliennya sebagai tersangka.
“Padahal tidak pernah ada uang yang dibayarkan oleh Hermanto kepada PT GBP terkait lahan tersebut. Tidak pernah ada bukti pembayaran. Apakah bisa hal itu disebut sebagai pemilik, sehingga status Hermanto selaku pelapor juga kita pertanyakan legal standingnya,” tambahnya.
Seperti pemberitaan sebelumnya, Henry J Gunawan ditahan oleh Kejari Surabaya usai menjalani proses tahap dua. Dalam kasus ini, Henry dijerat pasal 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan.(r7)

Loading...

baca juga