Jakarta,(DOC) – Hasil Pemilu 2024 yang hanya meloloskan delapan dari 18 partai politik ke parlemen turut mengandaskan sejumlah nama besar. Namun, hal itu tidak serta-merta menghentikan lahirnya partai-partai baru yang mengklaim hadir untuk mengisi celah representasi politik. Memasuki pertengahan Januari 2026, dua partai politik baru, Partai Gema Bangsa dan Gerakan Rakyat resmi dideklarasikan.
Partai Gema Bangsa resmi dideklarasikan di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (17/1/2026) lalu. Partai Gema Bangsa diketuai oleh Ahmad Rofiq didampingi Sekjen Partai Gema Bangsa, Muhammad Sopiyan. Keduanya merupakan eks kader Partai Perindo.
Gema Bangsa mengusung visi besar “Indonesia Reborn”. Partai ini diharapkan mampu menjadi partai politik baru yang mengusung semangat kemandirian bangsa, desentralisasi politik.
“Partai Gema Bangsa bukanlah milik pribadi ataupun segelintir elite, kepemilikan partai sepenuhnya berada di tangan para kader dan pengurus di seluruh Indonesia,” kata Rofiq, dikutip Selasa (20/1/2026).
“Ini adalah pernyataan deklarasi dari Partai Gema Bangsa bukan milik Ahmad Rofiq. Gema Bangsa adalah mereka-mereka yang ada di belakang saya, para ketua DPW, DPD, DPC, hingga ke ujung desa,” imbuh dia.
Rofiq menekankan, pentingnya meninggalkan pola politik yang sentralistik. Dia menegaskan, sudah waktunya rakyat diberi ruang lebih besar dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Menurut dia, Partai Gema Bangsa lahir bukan dari ambisi segelintir elite maupun kepentingan jangka pendek. Sebaliknya, partai ini muncul dari paradoks situasi kebangsaan yang semakin terpuruk, khususnya soal kekayaan sumber daya alam yang terus dikeruk oleh para pihak yang tidak pro rakyat.
“Kita lihat Pak Prabowo sangat marah dengan kondisi ini dan itu menunjukkan keberpihakan pada kepentingan bangsa. Semangat tersebut sejalan dengan visi Partai Gema Bangsa dalam memperjuangkan kedaulatan nasional.
Untuk itu, Rofiq menyebut Partai Gema Bangsa lahir dari kegelisahan, dari keprihatinan, dan dari harapan besar akan Indonesia yang berdaulat, lebih adil, dan lebih bermartabat,” ucapnya.
Dia optimis Indonesia bisa menjadi bangsa besar dengan potensi yang dimiliki. Caranya, lewat gerakan kemandirian, rakyat Indonesia bangkit melawan para oligarki yang menyengsarakan.
“Kemandirian bukan sekadar menutup diri, tapi berdiri tegak, tidak mudah didikte, tidak mudah bergantung, dan mampu menentukan arah bangsa dengan kekuatan sendiri. Kemandirian berpolitik berarti keputusan bangsa berpihak pada rakyat, bukan pada oligarki atau kepentingan asing, dan kemandirian budaya berarti bangsa Indonesia harus bangga pada jati dirinya sendiri sebagai fondasi membangun masa depan yang berdaulat dan bermartabat,” kata dia.
Sementara itu, usai mendeklarasikan diri menjadi partai politik, ormas Gerakan Rakyat berharap Anies Baswedan dapat menjadi Presiden Republik Indonesia.
“Kami menginginkan bahwa pemimpin nasional nanti insyaallah adalah Anies Rasyid Baswedan,” ujar Ketua Umum Gerakan Rakyat Sahrin Hamid, dikutip Selasa (20/1/2026).
Selain itu, Sahrin mengatakan bahwa arah perjuangan Gerakan Rakyat ke depannya adalah Anies Baswedan.
“Sudah jelas arah perjuangan kita ke depan bahwa di kondisi seperti apapun, Anies Baswedan adalah Gerakan Rakyat dan Gerakan Rakyat adalah Anies Baswedan,” katanya.
Adapun Anies telah diberikan kartu tanda anggota nomor 0001 oleh Sahrin pada 17 Desember 2025.
Sementara itu, lanjutnya, Gerakan Rakyat menargetkan pada Februari 2026 sudah terdaftar di Kementerian Hukum RI sebagai parpol.
Oleh sebab itu, dia mengajak seluruh kader Gerakan Rakyat untuk berjiwa militan demi memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai parpol.
“Insyaallah kita akan mampu mendirikan satu partai politik, Partai Gerakan Rakyat ini, dan memenuhi seluruh syarat-syarat yang diminta oleh negara,” katanya. (rd)





