Sidoarjo,(DOC) – Pekan kelima Liga TopSkor KU-14 menuai sorotan tajam. Di tengah ambisi pembinaan usia dini, kompetisi justru tercoreng maraknya kemenangan walk over (WO) yang dinilai tidak mencerminkan semangat sportivitas.
Di lapangan, laga antara Tunas Jaya Sepande kontra Citra Kids berakhir imbang 1-1. Pertandingan berlangsung ketat, kedua tim saling jual beli serangan. Tunas Jaya sempat unggul, namun gagal mempertahankan keunggulan setelah Citra Kids menyamakan skor.
Pelatih Tunas Jaya Sepande, Zainuri, menegaskan timnya tampil maksimal meski hasil belum sesuai harapan.
“Permainan anak-anak sudah bagus, tapi kami harus lebih fokus menjaga keunggulan. Ini jadi catatan penting untuk evaluasi,” tegasnya.
Namun, hasil pertandingan tersebut seolah tenggelam oleh polemik yang lebih besar.
Sejumlah pertandingan di pekan ini dilaporkan berakhir WO, memicu kekecewaan dari berbagai tim peserta.
Situasi ini memunculkan dugaan lemahnya koordinasi dan kesiapan panitia pelaksana.
Beberapa tim merasa dirugikan karena kehilangan kesempatan bertanding, sementara tim lain justru diuntungkan dengan tambahan poin tanpa harus bertanding.
Pelatih SSA, Achmad Andi, secara terbuka mengkritik kondisi tersebut dan meminta adanya pembenahan serius.
“Kompetisi usia dini seharusnya jadi ajang pembinaan, bukan sekadar mengejar hasil. Kalau banyak WO seperti ini, pemain yang dirugikan karena kehilangan menit bermain,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi penyelenggara Liga TopSkor. Tanpa evaluasi menyeluruh, bukan tidak mungkin kepercayaan peserta akan menurun.
Pekan berikutnya pun dituntut menjadi momentum perbaikan.
Jika tidak, Liga TopSkor KU-14 berpotensi kehilangan esensi utamanya sebagai wadah pembinaan generasi muda sepak bola. (r6)





