Jakarta,(DOC) – Ikhlas memiliki keterbatasan fisik merupakan kunci untuk meraih sukses.
Hal itu dijadikan mantra oleh Hikmat (40), seorang alumni Penerima Manfaat (PM) Balai Disabilitas Netra “Wyata Guna” Bandung.
Pada 2004 Hikmat mengikuti pelatihan di Balai Wyata Guna dan ia memanfaatkan kesempatan emas dengan tekun dan giat belajar agar bisa terus berkembang.
Usai berjuang dengan keras, Hikmat pun lolos dari pelatihan dengan bekal ilmu memijat shiatsu. Mulailah ia magang di Rumah Bugar (tempat pelatihan pijat shiatsu dan massage) milik Balai Wyata Guna.
“Mulai karier saat jadi PM di Balai dan mengikuti pelatihan memijat shiatsu, lalu magang di Rumah Bugar. Beres magang sedikit-sedikit mengumpulkan modal dan membangun relasi,” ujar Hikmat di Bandung, Jumat(21/5/2021).
Berbekal pelatihan dan magang Hikmat memberanikan diri dan membuka usaha klinik pijat yang diberi nama “Paradise” pada 2006 dan hingga sekarang sukses membuka lapangan kerja bagi para disabilitas netra lainnya.
Seiring perkembangan usaha yang terus maju, Hikmat memperkerjakan sembilan orang terapis disabilitas netra di kliniknya. Salah satunya Atep 53 tahun yang mengku dalam sebulan menangani hingga tujuh puluh pasien.
“Alhamdulillah saya kerja di sini sudah kurang lebih 11 tahun dan dalam sebulan menanganai 70 pasien. Dari situlah mendapatkan penghasilan dan itu sudah cukup,” ungkap Atep.
Penuturan pasien tetap klinik pijat shiatsu mengaku puas dengan pelayanan para terapis. Misalnya diungkpakan Nandang, 38 tahun, dalam sepekan ia bisa dua kali datang dan merasa puas dengan layanan terapisnya.
“Layanan di sini cukup memuaskan, saya merasa setelah dipijit badan terasa lebih ringan. Ke sini sepekan dua kali dan terkadang setiap hari kalau lagi badan capek banget, ” ucap Nandang.
Saat pandemi Covid-19 tidak dipungkiri, usaha pijat shiatsu mengalami penurunan. Terlebih dalam praktik pijat shiatsu kontak secara fisik. Ke depan, Hikmat berharap pandemi segera berakhir dan usaha kembali normal.
Sebelum terjadi pandemi Covid-19, di terapis pijat shiatsu “Paradise” melayani kurang lebih 500 pasien dalam sebulan.
Ikhlas bagi Hikmat tak sekedar sukses dengan klinik “Paradise”, tapi mantra dalam hidupnya mulai ‘bercahaya terang’ usai mengikuti pelatihan dan penguatan mental di Balai Disabilitas Netra “Wyata Guna” Bandung.(robby/hm)




