D-ONENEWS.COM

Pembeli, Makelar dan Koordinator Beri Kesaksian Kasus Penjualan Barang Sitaan Satpol

Surabaya,(DOC) – Sidang dugaan korupsi penjualan barang sitaan hasil penertiban Satpol PP Surabaya berlanjut.

Agenda sidang kasus yang nilainya Rp500 juta itu, masih seperti sebelumnya. Yakni menghadirkan 6(enam) orang saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.

Para saksi tersebut terdiri dari 4(empat) orang makelar (perantara), satu orang koordinator Satpol PP dan pihak pembeli.

Empat orang perantara itu, bernama Sunadi (Cak Sun), Yateno (Yatno), M. Mohamad S Hanjaya (Abah Yaya) dan Slemet Sugianto (Sugi). Koordinator Satpol PP yang datang sebagai saksi, yaitu Abdul Muin dan Abdul Rahman selaku pembeli barang.

“Iya. Hari ini 6 orang saksi lagi,” kata JPU Kejari Surabaya, Nur Rachmansyah, di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Rabu(2/11/2022).

Dalam mengungkap kasus dugaan korupsi di internal Satpol PP ini, pihak JPU Kejari Surabaya telah siap menghadirkan 24 orang saksi. Untuk memberikan keterangan di persidangan.

Pada setiap sidang, saksi di hadirkan 6 orang di pengadilan Tipikor Surabaya sesuai kelompoknya. Hingga sidang ketiga berlansung, saksi yang sudah di hadirkan oleh JPU total sebanyak 18 orang.

Kelompok pertama. JPU mendatangkan saksi dari kalangan pejabat. Di antaranya Kepala Satpol PP Eddy Christijanto, Kabid Sumber Daya Satpol PP Dwi Hardianto, Kabid Penegakan Peraturan Daerah (Kabid Gakda) Satpol PP Irna Pawanti, Anggota Gakda Andriansyah, Sub Koordinator Penyelidikan dan Penyidikan Gakda Satpol PP Iskandar serta pihak inspektorat Tatang.

Kelompok kedua. JPU menghadirkan saksi dari anggota Satpol yang bertugas sebagai penjaga gudang barang hasil penertiban, di Jalan Tanjungsari Surabaya. Mereka adalah Prasetyo, Uce Albas, Eko Hariyanto, Mujiono, Bagus Nugroho dan Mochamad Arifin.

Pada pemberitaan sebelumnya, mantan petinggi Satpol PP Ferry Jocom telah di tetapkan tersangka atas dugaan tindak pidana korupsi penjualan barang bukti hasil penertiban. Melalui surat penetapan yang di terbikan oleh Kejari Surabaya dengan Nomor Print-05/M.5.10/Fd.1/07/2022, tertanggal 13 Juli 2022.

Ferry Jocom yang seketika itu di tahan di Rutan Kelas 1 Surabaya Cabang Kejati Jatim, di sangkakan melanggar Pasal 10 huruf a, Pasal 10 huruf b Jo. Pasal 15 Jo. Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sebagaimana telah di ubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.(r7)

Loading...

baca juga