Perwali Belum Ditetapkan, Tiket ‘Bus Suroboyo’ Sulit Diperoleh Warga

foto : Bus Suroboyo(ilustrasi)

Surabaya,(DOC) – Tiket ‘Bus Suroboyo’ berupa botol plastik menjadi tumpukan sampah yang belum bisa di nikmati nilai ekonomisnya, akibat belum adanya peraturan Wali kota(Perwali) yang mengatur soal itu.

Sejumlah bank sampah juga enggan menerima botol – botol plastik tersebut karena kuatir melanggar aturan. Salah satunya adalah bank sampah induk Ngagel.

“Kita belum berani menerima, karena bagaimana pertanggung-jawaban uang penjualan botol itu nanti, hasil itu disetorkan kemana kalau tidak ada perwali. Itu lumayan buat kami,” kata Nurul Hasanah, Humas Bank Sampah Induk Ngagel, Sabtu(15/9/2018).

Menurut dia, penukaran botol plastik dengan tiket ‘Bus Suroboyo’ belum jelas aturannya tentang nilai ekonominya.

“Tapi kalau pemkot ya berani menerima, kan mereka simpan sendiri. Kalau memang mereka mengambil nilai ekonomis ya biar mereka sendiri yang bertanggung jawab nantinya.” lanjut Nurul

Nurul menambahkan kerjasama penukaran botol plastik dengan tiket Bus Suroboyo antara Pemkot Surabaya dengan Bank Induk Sampah dibawah Yayasan Bina Bakti Lingkungan, dilakukan sejak Bus itu dikenalkan kemasyarakat. Tapi 3 minggu kemudian kerjasama itu dihentikan oleh Pemkot Surabaya karena menunggu Peraturan Walikota (Perwali) yang mengaturnya.

“Sekarang ini kami masih menyimpan sekitar 500 kg botol penukaran tiket. Semuanya tercatat dengan baik. Kami tidak berani menjualnya. kalau pemkot mau mengambil silahkan” tegas Nurul.

Kondisi serupa juga terjadi di beberapa Bank sampah Induk yang diajak kerjasama oleh Pemkot Surabaya. Bank Sampah Induk yang diajak pemkot untuk penukaran botol plastik dengan tiket Bus Suroboyo ada sekitar 5 lokasi.

“Bahkan rencananya tidak hanya Bank Sampah Induk yang diajak bekerjasama, melainkan juga ditingkat unit” ujar Nurul.

Botol plastik yang ditukaran warga bervariasi bentuk dan jenisnya, Karenanya Nurul tidak bisa menaksir berapa nilai ekonomisnya kalau dijual.

Sikap sejumlah bank sampah induk yang menolak penukaran botol plastik dengan tiket “Bus Suroboyo” ini, menjawab kekecewaan warga Pucang, Taruli yang ditolak ketika hendak menukarkan botol plastic dengan tiket Bus Suroboyo.

“Ini baru pertama kali mencoba. Saya tahunya bisa menukarkan disini dari Sosmed. Tapi tidak dijelaskan kalau sekarang masih belum bisa. Jadi saya coba tukar botol ke bank sampah Induk Ngagel,” kata Taruli.

Wanita muda ini berharap, agar Pemkot segera membuat Perwali sehingga seluruh warga Surabaya bisa menikmati transportasi gratis yang ramah lingkungan.

“Programnya bagus selama bisa diolah dengan baik. Tapi kalau sampah ini numpuk ya tidak bagus,” pungkasnya.(lm/r7)