Presiden Prabowo: Target Swasembada Pangan Indonesia Tercapai Lebih Cepat

Jakarta (DOC) – Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Indonesia berhasil kembali mencapai swasembada pangan pada 2025. Karenanya, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada impor dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Bacaan Lainnya

Prabowo mengapresiasi kerja keras seluruh jajarannya yang mampu membawa Indonesia swasembada pangan hanya dalam waktu setahun sejak kepemimpinannya. Capaian itu lebih cepat dari target awal yang diperkirakan baru bisa tercapai dalam empat tahun.

Bagi Prabowo, hal ini adalah kemenangan rakyat karena Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada negara lain. Terlebih, Indonesia adalah negara kaya sumber daya.

“Kita mencatat suatu kemenangan yang penting. Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa merdeka kalau makan pangan tergantung bangsa lain,” ucap Prabowo, dikutip Kamis (8/1/2026).

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan terwujudnya swasembada pangan Indonesia bukanlah kerja kementeriannya semata, melainkan kerja sama seluruh kementerian/lembaga terkait di bawah kepemimpinan Prabowo. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu tercapainya swasembada pangan.

“Swasembada ini adalah kerja terbaik Kabinet Merah Putih dari gagasan besar Bapak Presiden Republik Indonesia dan seluruh penyuluh petani Indonesia,” ujar Amran.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan kerangka sampel area (KSA) amatan November 2025, produksi beras nasional 2025 diprediksi mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan domestik tahunan sekitar 30-31 juta ton per tahun.

Pengadaan beras tahun 2025 pun tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Perum Bulog melalui pembelian gabah langsung dari petani any quality dengan harga Rp6.500 per kilogram.

Cadangan beras pemerintah sempat mencapai rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025 dan kini berada di kisaran 3,25 juta ton pada awal 2026, seiring penyaluran beras untuk bencana serta pengendalian stok dan harga.

Capaian itu mencerminkan stabilitas pasokan, keberpihakan harga kepada petani, dan kehadiran negara dalam tata kelola pangan. Dampaknya, petani kian semangat untuk berproduksi dengan jaminan harga dan kepastian serapan oleh Bulog.

“Di saat [target swasembada beras] menjadi satu tahun, alhamdulillah kami vertigo, kami asam lambung, hari ini sudah mulai sembuh, recovery kembali. Kami bukan kerja sendiri. Kalau sendirian, aku pasti tidak capai apa yang kita lihat hari ini. Tadi, Bapak (Presiden Prabowo) janji empat tahun, kemudian berubah tiga tahun, kemudian satu tahun,” ujar Amran. (rd)